Artikel
Puasa Menyehatkan Jasmani dan Ruhani PDF Print E-mail
Written by Farid Ma'ruf   
Thursday, 11 August 2011 01:14

Sebagai hamba Allah SWT yang telah berikrar, sebenarnya apa pun perintah-Nya, kita tidak perlu dan tidak pantas bertanya-tanya mengapa, untuk apa?. Hamba yang baik justru senantiasa ber-husnuzhzhan, berbaik sangka kepada-Nya. Allah SWT memerintahkan atau melarang sesuatu, pastilah untuk kepentingan kita.

Karena Allah SWT Maha Kaya, tidak memiliki kepentingan apa pun. Ia mulia bukan karena dimuliakan; agung bukan karena diagungkan; berwibawa bukan karena ditunduki. Sejak semula Ia sudah Maha Mulia, sudah Maha Agung, sudah Maha Kaya, sudah Maha Berwibawa. Kalau kemudian Ia menjelaskan pentingnya melaksanakan perintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya, semata-mata karena Ia tahu watak kita yang suka mempertanyakan, yang selalu menonjolkan kepentingan sendiri.

Maka, sebelum kita mempertanyakan mengapa kita diperintahkan berpuasa, misalnya, Allah SWT telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

(Q. 2. Al-Baqarah: 183)

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kalian sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”

Jadi, puasa yang diwajibkan sejak dulu kepada kaum sebelum kita, bertujuan utama: agar kita manusia ini bertakwa. Takwa adalah kondisi puncak hamba Allah. Hamba mukmin di dunia ini, dalam proses menuju ketakwaan kepada Allah SWT. Karena semua kebaikan hamba di dunia dan kebahagiaannya di akhirat, kuncinya adalah ketakwaan kepada-Nya. Mulai dari pujian Allah SWT, dukungan dan pertolongan-Nya, penjagaan-Nya, pengampunan-Nya, cinta-Nya, limpahan rejeki-Nya, pematutan amal dan penerimaan-Nya terhadapnya; hingga kebahagiaan abadi di sorga, ketakwaanlah kuncinya. (Baca misalnya, Q.3: 76, 120, 133, 186; Q.5:27; Q. 16: 128; Q. 19: 72; Q. 39: 61; Q. 65: 2-3; Q. 33: 70-71; Q. 49: 13).

Itu garis besarnya. Apabila kebahagiaan yang dicari manusia, itulah kuncinya. Kunci dari Sang Pencipta manusia dan kebahagiaan itu sendiri. Seringkali, manusia merasa mengerti dan tahu jalan menuju kebahagiaan. Mengabaikan tuntunan Tuhannya. Ternyata tersesat. Akhirnya, kebahagiaan yang dicari, kesengsaraan yang didapat. Di zaman modern ini misalnya, banyak orang menganggap kebahagiaan bisa didapat dari materi dan orang pun berlomba-lomba mengejar materi. Seringkali, sampai “kaki dijadikan kepala, kepala dijadikan kaki”. Ujung-ujungnya, karena materi ternyata tidak kunjung memberi kebahagiaan, mereka pun lari kepada yang lebih mudarat lagi: mengonsumsi obat-obatan. Narkoba.

Untunglah, Allah menyediakan satu bulan, bulan suci, dimana kita diberi kesempatan untuk melakukan muhasabah yang lebih intens. Kita diberi anugerah luar biasa yang namanya p u a s a. Di bulan Ramadan di mana kita berpuasa, ritme dan gaya hidup kita berubah. Jadwal makan pun berubah dengan satu kelebihan: kita memenuhinya dengan teratur. Maka, banyak kalangan ahli yang kemudian mengaitkan puasa dengan kesehatan, merujuk sabda Nabi kita, “Shuumuu tashihhuu”, (Berpuasalah kalian, maka kalian akan sehat).

Dengan berpuasa, tidak hanya makan-minum kita menjadi teratur; malah para ahli mengatakan bahwa puasa dapat membersihkan dari tubuh kita, unsur-unsur buruk yang membuat kita sakit.

Jadi, puasa bulan Ramadan, bukan saja dianugerahkan Allah bagi kepentingan ruhaniah, tapi juga jasmaniah kita. Atau dengan kata lain, Allah menganugerahkan kepada kita puasa sebagai sarana menyempurnakan diri. Jasmaniah dan ruhaniah. Kalau ungkapan “Al-‘aqlus saliim fil jismis saliim” menyiratkan pentingnya menjaga kesehatan jasmani agar akal menjadi sehat, maka puasa justru memberi peluang kepada kita untuk sekaligus meraih keduanya.

Dengan puasa, hamba Allah digembleng untuk menjadi manusia yang benar-benar sehat luar dalam yang selalu mengingat Sang Penciptanya. Bukan manusia penyakitan yang gampang lupa kepada Tuhannya. Orang yang lupa Tuhannya, seperti difirmankanNya sendiri dalam kitab sucinya al-Quran, dibuat lupa kepada dirinya sendiri.(Q. 59: 19).

Mari kita sikapi bulan Ramadan dengan segala suasana khusyuknya ini dengan sebaik-baiknya. Berpuasa sesuai aturan dan dengan merenungkan hikmah-hikmahnya. Kita penuhi saat-saatnya dengan meningkatkan amal ibadah yang tidak hanya bersifat ritual mahdhah. Dan dalam hal ini, perlu kita waspadai jebakan si serakah industri, termasuk dan utamanya industri pertelevisian, yang lagi-lagi memanfaatkan momentum bulan suci untuk mengeruk keuntungan materi dan membedaki tujuan komersialnya dengan pupur religi. Selamat Beribadah!

KH. Musthofa Bisri

 
"Durhaka" Berbuah Celaka PDF Print E-mail
Written by Farid Ma'ruf   
Monday, 21 March 2011 02:40

“Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah, “ demikian pepatah masyhur yang menunjukkan bagaimana peran ibu pada anak-anaknya.

Hanya saja, teramat sedikit anak yang mengerti dan menghargai ibu mereka. Padahal, dalam al-Quran banyak disebutkan, ridha ibu merupakan ridha Allah dan murka ibu bisa membuat murkan Allah. Setidaknya tercermin dalam kisah ini.

Peristiwa ini terjadi pada naas yang pernah dialami oleh Ali, pemuda asal Madura, pada pertengahan tahun 2005 silam.

Menurut pengakuan laki-laki berperawakan murah senyum ini, peristiwa yang hampir merenggut nyawanya tersebut, bermuara pada keinginannya melanjutkan studi, seusai menamatkan proses pembelajaran Sekolah Menengah Aliyah (SMA), di salah satu pondok pesantren di kota garam tersebut.

Setelah berbagi pikiran dengan salah satu temannya, diambillah keputusan untuk melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi Islam yang terletak di Situbondo, Jawa Timur.

Tak disangka, ketika mengutarakan keinginannya tersebut kepada kedua orangtuanya, ternyata keinginan mereka bertolakbelaka dengan apa yang dikehendaki Ali. Alasannya, selain jauh, dia juga tidak memiliki teman sekampung yang hendak melakukan studi di sana.

”Ndak usah kuliah di sana. Kamu kan gak ada teman dari sini (kampung). Nanti kamu berangkat dan pulang sendirian. Kalau terjadi apa-apa di jalan, bagaimana?” papar Ali, menirukan keberatan ibunya.

Sekalipun telah mendapat sinyal ketidakridhaan orangtuanya, terutama ibu,  Ali nampaknya tetap bersikeras untuk melanjutkan misinya. Peringatan-peringatan orangtuanya akan kemudharatan kalau dia bersikukuh kuliah di sana, sama sekali tak digubris. “Anjing menggonggong, kafilah terus berlalu.”

Akhirnya, melihat kengototan si-buah hati yang gak bisa ditawar-tawar, mereka pun dengan berat hati menyetujui keberangkatan Ali.

”Kalau kamu masih bersikeras, ya, terserah kamu,” ujar mereka dengan nada berat, penuh keterpaksaan.

Kecelakaan

Tidak lama setelah mendapat ’lampu hijau’ dari orangtua, bersama si-teman, Ali akhirnya berangkat ke daerah perantauan. Perjalanan pertama ini, bertujuan untuk observasi, memastikan akan kebenaran berita, bahwa di pondok yang mereka tuju itu ada perguruan tingginya, atau tidak.

Memang, perburuan mereka akan perguruan tinggi, bisa dibilang sedikit agak liar. Menurut pengakuan Ali, mereka sama sekali buta akan perguruan tinggi tersebut. Anehnya, mereka sudah tergiur untuk kuliah di sana.

Tanda-tana kurang baik mulai cium. Ketika mereka telah menapakkan telapak kaki di lokasi yang mereka tuju. Setelah menggali informasi dari pengurus pesantren, terungkap, bahwa pondok tersebut tidak memiliki perguruan tinggi, sebagaimana informasi yang mereka dapatkan.

”Saya sangat kecewa. Jauh-jauh dari madura ke Situbondo, ternyata hasilnya nihil,” terang Ali.

Karena perburuannya tidak sukses, Ali pun langsung balik kanan, pulang kampung. Namun, perjalanan kali ini, dia harus tempuh sendiri, karena sahabatnya masih ada keperluan yang lain. Dan hal ini lah yang sangat dikhawatirkan oleh kedua orangtuanyai.

Ceritanya, ketika bus yang dikendarai Ali tiba di salah satu terminal di Madura, ia bersiap-siap turun. Tak ada  angin, tak ada  hujan, ketika kaki kirinya menginjakkan tanah, tiba-tiba dia langsung lunglai, pingsan. Naasnya, kepala bagian belakang, terbentur tortoar, yang mengakibatkan goresan luka tepat pada salah satu sarafnya, yang kemudian menyebabkan Ali berlumuran darah.

Ali langsung tidak berdaya. Sekujur tubuhnya kaku, tak ubahnya sebuah mayat.
”Menurut informasi yang saya peroleh, saat itu tangan saya dalam posisi terlentang. Tidak bisa diubah posisinya, karena kaku. Akhirnya, untuk mengganti pakaianku yan berlumuran darah, pihak medis memotong-motong bajuku,” jelasnya.

Celakanya lagi, saat itu, pria yang memiliki kemampuan bahasa Arab ini, tidak membawa satu pun kartu identitas, sehingga membuat orang-orang di sekitarnya kebingungan untuk menghubungi pihak keluarga.

Sebuah keajaiaban, di tengah kondisi keritisnya, Ali sempat mengucapkan nama pondok almamaternya, sehingga memudahkan para relawan melacak keberadaan keluarganya.
”Sudah pasti itu pertolongan Allah. Dalam kondisi demikian, aku bisa memberitahu nama almamaterku. Dan terus-terang, saya sendiri tidak menyadari akan hal itu,” akunya dengan nada terbata-bata.

Pasca kecelakaan itu, selama empat hari Ali tidak sadarkan diri. Dalam kurun waktu itu, ± delapan infus dan dua oksigen dia habiskan.

Buta, Bisu dan Tuli

Setelah mengalami masa kritis, pada hari kelima, Ali mulai siuman. Sayangnya, kondisi ini, justru membuat Ali semakin terpukul. Bagaimana tidak, ketika awal siuman, dia mendapatkan dirinya tidak mampu melihat, mendengar, dan berbicara. ”Saya sangat terpukul,” tegasnya.

Untunglah, Ali bukan tipe orang yang mudah menyerah dengan keadaan. Seiring dengan berjalannya waktu, kondisi Ali sedikit demi sedikit membaik. Dia sudah mampu memdengar dan melihat. Tapi, untuk berbicara, dia mengalami kesulitan. Banyak lawan bicaranya, termasuk ibu bapaknya sendiri, tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.
”Keluar suara, tapi mereka pada tidak mengerti dengan apa yang saya ucapkan,” terangnya.

Selama kurang lebih satu bulan, Ali mengalami kondisi yang demikian. Alhamdulillah, setelah itu kondisinya kembali membaik, normal seperti sediakala, meskipun, kadang kala dia masih merasakan rasa nyeri di kepalanya.

Sedari itu, Ali tidak pernah lagi mengacuhkan perkataan orangtuanya. Peristiwa tersebut, benar-benar dijadikan pelajaran penting bagi kehidupannya.

”Ini adalah teguran Allah yang sangat berharga bagiku. Intinya, jangan pernah kita mendurhakai orangtua. Ingat, ridha Allah itu terletak pada ridha orangtua, dan murka Allah, itu terletak pada murka orangtua,” ujarnya mengingatkan, sembari menyitir salah satu hadits Nabi Muhammad Shalallahu ’alahi Wasallam. Semoga kisah ini bisa dijadikan pelajaran bagi semuanya, ujar Ali mengakhiri ceritanya.*

Cerita ini dikisahkah Ali, pemuda asal guluk-guluk, Madura, kepada hidayatullah.com

Rep: Robinsah
Red: Cholis Akbar

 
Membongkar Konsep “Evolusi Syariat” An-Na’im PDF Print E-mail
Written by Imam Nawawi   
Monday, 19 July 2010 00:56

Teori an-Na’im di samping berbeda dengan pandangan jumhur ulama, juga terlihat sangat mentah, dangkal dan prematur

Oleh: Shohibul Anwar*

Abdullahi Ahmed an-Na’im, seorang tokoh Islam liberal dari Sudan yang sangat giat  menyebarkan ide dekonstruksi syariat. Gagasannya memberi pengaruh kuat, kalangan akademisi di kampus IAIN dan UIN. Ia memperoleh gelar doktor dari Universitas Edinburgh pada 1976 dan kini menjadi Guru Besar Hukum di Fakultas Hukum Emory University, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat.

Konsep reformasi syariat an-Na’im dimaksudkan untuk menjawab kebuntuan syariat Islam dalam menghadapi discourse kontemporer yang meliputi konstitusionalisme modern, hukum pidana, hubungan internasional modern dan hak asasi manusia. Dalam empat bidang hukum publik tersebut, menurut an-Na’im, syariat Islam tidak mungkin bisa diterima nalar publik manusia modern. Karena itu penerapan syariat Islam pada masa sekarang ini, akan menimbulkan problem serius.

Di sisi lain, an-Na’im melihat bahwa hukum publik yang telah diimplementasikan dengan baik di negara-negara Barat, patut dijadikan standar ideal untuk diadopsi di dunia Islam karena merupakan hasil pencapaian tertinggi manusia modern dewasa ini. Agar bisa diterima kaum Muslimin, hukum publik Barat tersebut harus dicarikan basis pijakannya dari ajaran Islam itu sendiri.

Untuk mengatasi problem tersebut, an-Na’im mengajukan konsep perubahan dalam hukum publik di negara-negara Islam yang disebut evolusi syariat. Ia adalah suatu pengujian secara terbuka terhadap isi Al-Quran dan al-Sunnah yang melahirkan dua tingkat atau tahap risalah Islam, periode awal Makkah dan berikutnya Madinah.

An-Na’im menyimpulkan bahwa ayat-ayat makkiyyah membawa tema dan misi yang fundamental dan abadi: tanpa diskriminasi, melintasi batas dimensi waktu dan tempat. Sedangkan ayat-ayat madaniyyah membawa misi sementara, diturunkan untuk masyarakat tertentu sesuai dengan kondisi tertentu.

Berdasarkan situasi dan kondisi masyarakat abad VII, ayat-ayat madaniyyah dijadikan basis legislasi hukum Islam, sementara ayat-ayat makkiyyah – dengan menggunakan naskh - ditunda pelaksanaannya. Naskh dipahami an-Na’im sebagai menunda  berlakunya suatu ayat karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan ayat tersebut untuk diaplikasikan, dan ayat tersebut akan fungsional kembali bila situasi dan kondisi memungkinkan.

Situasi dan kondisi abad ini telah berubah, ayat-ayat madaniyyah tidak lagi aplikatif, sementara ayat-ayat makkiyyah mendesak untuk diterapkan. Maka dengan menggunakan konsep naskh yang dibalik prosesnya, ia melakukan generalisasi: ayat-ayat makkiyyah me-naskh ayat-ayat madaniyyah. Ayat-ayat makkiyyah sudah saatnya difungsikan kembali sebagai basis legislasi syariat yang baru. Di atas basis legislasi baru itu, dibangun versi hukum publik Islam yang sesuai dengan nilai-nilai modern  yang tidak lain adalah pencapaian masyarakat Barat saat ini

Telaah Kritis

Ada dua persoalan yang harus dikritisi dari gagasan an-Na’im, yaitu konsep makkiyyah-madaniyyah dan konsep naskh. Keduanya terkait dengan persoalan penafsiran Al-Quran dan perumusan metodologi ushul fiqh.

Konsep makkiyyah-madaniyyah merupakan pembahasan yang penting karena menyangkut bagaimana mamahami Al-Quran secara benar. Berbagai bukti telah menunjukkan bahwa munculnya beberapa penyimpangan pemahaman terhadap  sebagian ayat Al-Quran terjadi karena jauhnya pemahaman tersebut dengan pijakan sejarah pewahyuan, baik ashbaab al-nuzuul (sebab turunnya) maupun tartiib al-nuzuul (urutan turunnya) wahyu.

Dalam bidang-bidang tersebut, para ulama telah melakukan kajian yang sangat komprehensif dan mendalam. Ada tiga konteks dalam melihat makkiyyah-madaniyyah, yaitu konteks tempat, khithaab, dan waktu.

Yang pertama, makkiyyah-madaniyyah dibedakan berdasarkan tempat turunnya. Makkiyyah merujuk kepada ayat-ayat yang turun di Makkah, dan madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun di Madinah. Kedua, dibedakan berdasarkan khithaab (objek wahyu). Makkiyyah adalah ayat-ayat yang turun kepada penduduk Makkah, sedangkan madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun kepada penduduk Madinah. Ketiga, waktu turunnya.. Makkiyyah adalah ayat-ayat yang turun sebelum hijrah, dan madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun sesudah hijrah. Dari ketiganya, konteks waktu ini yang paling relevan dan paling populer.

Berbeda dengan an-Na’im, tak satupun ulama dari dulu sampai sekarang yang memandang makkiyyah-madaniyyah sebagai dua unit wahyu yang terpisah dan tidak saling terkait apalagi mengatakan yang satu lebih utama dari yang lain. Pembagian fase makkiyyah-madaniyyah justru menunjukkan keterkaitan yang utuh antara keduanya. Ayat-ayat makkiyyah turun lebih dulu dengan karakteristik khusus. Tema-temanya menjadi dasar dan pondasi bagi turunnya ayat-ayat madaniyyah  yang memiliki karakteristik tema yang khas pula. Persoalan-persoalan tauhid, kabar gembira tentang surga dan ancaman neraka, kisah-kisah umat terdahulu menjadi pondasi keimanan yang kuat bagi umat Islam untuk menegakkan diin sebagai sistem kehidupan  pada periode Madinah. Ayat-ayat madaniyyah tidak akan aplikatif manakala ayat-ayat makkiyyah tidak turun lebih dahulu.

Persoalan naskh dalam kajian uluum Al-Quran maupun ushuul al-fiqh masih debatable dan kontroversial. Pengertian naskh yang umum dikenal kaum Muslimin adalah proses penghapusan hukum syar’i yang telah ada untuk kemudian digantikan dengan hukum syar’i yang baru berdasarkan dalil syar’i  yang datang kemudian. Yang patut untuk kita perhatikan adalah walaupun sebagian besar ulama mendukung konsep naskh, tetapi mereka menetapkan syarat yang ketat untuk mengaplikasikannya, yaitu:

a. Hukum yang diganti tidak diikuti oleh ungkapan yang menunjukkan atas berlakunya hukum tersebut selama-lamanya (abadi).

b. Hukum yang diganti (mansuukh) tidak termasuk masalah-masalah yang telah disepakati oleh para ulama atas kebaikan atau keburukan masalah-masalah tersebut.

c. Nash yang mengganti (naasikh) turunnya harus lebih akhir dari nash  yang diganti (mansuukh).

d. Kedua nash (naasikh dan mansuukh) benar-benar sudah tidak bisa dikompromikan.

Dari sini dapat diketahui bahwa naskh merupakan proses yang rumit. Dibutuhkan kejelian, kecerdasan dan kerja keras untuk mengaplikasikan berbagai teori penafsiran untuk meneliti apakah suatu ayat benar-benar tidak bisa dikompromikan sehingga terpaksa ditempuh jalan naskh. Juga perlu menempuh berbagai cara dengan mengaplikasikan berbagai teori penderivasian hukum, sehingga menghasilkan formulasi hukum yang utuh dan komprehensif.

Teori an-Na’im di samping berbeda dengan pandangan jumhur ulama, juga terlihat sangat mentah, dangkal dan prematur. Tidak terlihat suatu upaya serius untuk memahami Al-Quran secara utuh dan mendalam. Akibatnya, tentu saja melahirkan kesimpulan yang gegabah dan sulit dipertanggungjawabkan. Bagi an-Na’im, barangkali, apapun teorinya yang penting hukum publik syariat harus didekonstruksi agar hukum Barat bisa dijadikan basis legislasi baru di negara-negara Islam. Hal ini seperti biasa dilakukan kaum orientalis ketika mereka mengkaji Islam.

Framework di atas hanyalah salah satu dari sekian framework kajian orientalis. Berbeda bidang kajian berbeda pula frameworknya, dan berbeda periode berbeda pula teknik dan metode kajiannya, tetapi tetap dengan semangat yang sama. Bisa diduga, an-Na’im dalam proyek dekonstruksi syariatnya sedang mengaplikasikan framework-framework tersebut.

*)Penulis master dalam bidang pemikiran Islam, tinggal di Surabaya

 
Teror Tabung Gas PDF Print E-mail
Written by Imam Nawawi   
Friday, 16 July 2010 23:49

 

Pemerintah terkesan "gagap" mengatasi peristiwa ledakan tabung gas yang marak terjadi di berbagai daerah di tanah air. Indikasinya dapat terlihat dari belum adanya investigasi serius dan menyeluruh untuk mengatasi hal itu.

Oleh : Zainal Arifin*


Densus 88 terbilang sukses dalam berburu teroris, applause dari negara-negara tetangga silih berganti diterima kedutaan RI di beberapa negara terkait sukses tersebut. Ironisnya, di Indonesia masih saja sering terjadi ledakan-ledakan yang tak kalah dasyatnya dengan bomb para teroris itu. Ledakan yang juga meluluh lantakan bangunan dan telah banyak merenggut korban, baik harta maupun nyawa. Maraknya ledakan tabung gas LPG (elpiji) yang belakangan ini mengguncang beberapa tempat di negeri ini, seakan-akan menjadi momok baru bagi masyarakat khususnya para ibu rumah tangga.

Kita tentu masih ingat kontroversi terkait program konversi minyak tanah ke gas LPG beberapa waktu lalu, pemerintah dengan mantab dan lantang menyatakan bahwa program konversi akan berlangsung dengan sukses. Program yang diharapkan dapat menghemat pengeluaran anggaran negara yang tersedot oleh minyak tanah sehingga anggaran tersebut bisa dialihkan ke program pemerintah lainnya. Meski demikian gamblangnya pemerintah menjelaskan maksud dan tujuan program tersebut, masyarakat ketika itu banyak yang tidak setuju, karena merasa ada konspirasi dari para pejabat negeri ini terkait program konversi tersebut.

Dan semuanya telah dijawab seiring berjalannya waktu, konspirasi itu semakin nyata setelah banyak kejadian ledakan tabung gas LPG yang dibagikan secara gratis oleh pemerintah. Dengan berjuta dalih, pemerintah senantiasa “menyalahkan” masyarakat (sebagai konsumen) pengguna gas LPG. Mulai dari tuduhan perangkat gas LPG yang bukan SNI, kecerobohan masyarakat saat menggunakan gas LPG, serta penggantian selang karet dengan selang air, sampai masalah penggantian regulator gas LPG dengan yang ada puterannya untuk kepraktisan. Semua itu banyak dilakukan masyarakat tanpa berkordinasi dengan pihak yang bersangkutan, yang dilegalisasi pemerintah. Anehnya, bukankah masyarakat menerima satu paket konversi berisi kompor, selang dan tabung elpiji 3 kg dari pemerintah?Lalu, mengapa masyarakat yang telah jadi korban justru kini disalahkan pula?

Inilah aroma ”busuk” yang dapat kita rasakan bersama sebagai hasil akal-akalan pejabat pemerintah. Para pembuat kebijakan yang dengan perlahan namun pasti kian mencekik ruang kesejahteraan rakyat sipil. Adanya program konversi tersebut telah melambungkan harga minyak tanah yang telah langka, disaat masyarakat telah bergantung dan dipaksa memakai gas LPG, kini mereka dihadapkan dengan kualitas perangkat gas LPG yang memprihatinkan. Banyaknya aksesoris gas LPG yang palsu dan tidak layak pakai bisa jadi sebagai dampak ”budaya” suap dan korupsi pejabat negeri ini. Coba hitung berapa banyak telah ditemukannya lapak-lapak penjual tabung ilegal, hasil selundupan. Beredarnya aksesoris gas LPG yang tidak berstandar dikalangan masyarakat. Boleh sajakan bila disimpulkan hal ini dapat terjadi dan langgeng karena mendatangkan keuntungan bagi beberapa rekening pejabat pemerintah kita?

Renungkan firman Allah Swt di dalam Al Quran surat Faathir ayat 40 yang artinya: Katakanlah "Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. Perlihatkanlah kepada-Ku manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? Sebenarnya orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka".

Mestinya pemerintah melakukan pengawasan yang ketat terhadap peredaran dan kualitas dari paket gas LPG yang dibagikan gratis pada masyarakat terutama tabungnya. Pemerintah harus melakukan evaluasi ulang secara menyeluruh terkait program konversi yang telah merenggut banyak nyawa. Diantaranya proses pengadaan, penyaluran, pengisian dan kualitas tabung gas. Serta perlunya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait penggunaan perangkat gas LPG yang baik dan aman. Bukan malah menjadikan program ini sebagai lahan proyek korupsi baru demi gendutnya rekening pribadi.

Presiden harus bertanggung jawab

Kembali pada korban ledakan gas LPG, sudah seyogyanya mendapat perhatian ekstra dari pemerintah. Jika Presiden kita bisa berduka cita pada korban ledakan bomb para teroris meski mereka warga asing, sepantasnyalah Presiden juga prihatin dan mengambil tindakan cerdas untuk mengusut tragedi beruntun ledakan tabung gas LPG yang entah sampai kapan akan berakhir. Karena secara langsung program konversi tersebut menjadi tanggung jawab Presiden yang telah mengadakan program ini disaat masa pemerintahan kabinetnya. Itupun jika program konversi minyak tanah ke gas LPG ini, benar-benar tidak ada scheming dari suatu golongan/ pihak tertentu.

Bisa dibilang sekarang aparatur pemerintah masih angin-anginan dalam menanggulangi bertambahnya korban dari ledakan gas LPG. Sebagaimana pernyataan Direktur Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK) Farid Wajdi yang mengatakan bahwa pemerintah terkesan "gagap" mengatasi peristiwa ledakan tabung gas yang semakin marak terjadi di berbagai daerah di tanah air. Indikasinya dapat terlihat dari belum adanya investigasi serius dan menyeluruh untuk mengatasi hal itu, (ANTARA: Senin, 5 Juli 2010).

Tragedi ledakan tabung gas LPG merupakan musibah nasional karena telah terjadi hampir merata di setiap daerah. Namun mengapa sampai detik ini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah terkait pihak yang bertanggung jawab, bukankah ini program unggulan pemerintah? Seharusnya ada dana santunan atau apapun bentuknya yang diterima keluarga korban sebagai kopensasi meski itu tidak sebanding dengan harga satu nyawa. Apa mungkin ini ulah teroris yang menggunakan jurus baru agar tidak terendus Densus 88? Dalang teroris yang mungkin sengaja diadakan sebagai pengalih wacana public demi pembentukan opini masyarakat akan keberadaan pahlawan kesiangan.

Sungguh melelahkan hati ketika kita terus mengikuti perkembangan problematika bangsa yang menggelinding bagai bola salju. Coba renungkan, mulai kasus beredarnya video mesum, kasus kekerasan pada pelajar, penculikan anak dibawah umur, kerusuhan antar kelompok, maraknya makelar kasus, gonjang-ganjing rekening gelap pejabat pemerintah, sengketa tanah, buruknya sarana-prasarana transportasi, terpuruknya prestasi negeri utamanya bidang olahraga, melambungnya harga barang-barang, serta masih banyak lagi skandal anak negeri yang begitu miris untuk dipikirkan. Pertanyaannya, semua itu terjadi karena SDM kita yang rendah atau rekayasa sekelompok orang untuk merusak tatanan norma kehidupan bangsa Indonesia?

Kompleksitas permasalahan nasional yang sangat membutuhkan mediasi dari kita semua, demi menjernihkan suasana negeri dan mengangkat kembali martabat bangsa yang telah terseok-seok dalam dekade belakangan ini. Tidak hanya Densus 88 yang bekerja memburu teroris, kita juga semestinya andil bagian dalam perburuan tersebut. Karena ternyata negeri kita telah disesaki tukang teror yang begitu beragam. Teroris yang tidak hanya pandai merakit bomb, tapi juga lihai menilap uang rakyat, pandai mengadu domba, mahir merekayasa perkara, serta senantiasa menebarkan racun dalam paradigma kaum intelektual kita agar tak ada lagi ideologi dalam dirinya, demi tujuan untuk menggadaikan negeri ini kebudayaan liberal. Waspadalah!!!!!

 

*Ketua Syabab Hidayatullah Trenggalek

 

Last Updated on Friday, 16 July 2010 23:55
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 21

Berita Global

Berhenti Merokok Bisa Bikin Sabar

Hidayatullah.com—Anda termasuk tipe orang pemarah atau temperamental? Nah, mulailailah berh [ ... ]


Berita Lainnya

Berita Islam

Ulama-ulama Nusantara yang Sudah Mendunia

Mereka umumnya menghabiskan hidupnya dengan mengajar di Mekah, sebagian lagi pulang ke Indonesi [ ... ]


Berita Lainnya

Teknologi

eBook Gusur Buku Cetak di AS

Hidayatullah.com--Data baru menunjukkan bahwa buku elektronik atau eBook untuk pertama k [ ... ]


Berita Lainnya

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.