Hikmah
Puasa Menyehatkan Jasmani dan Ruhani
Written by Farid Ma'ruf    Thursday, 11 August 2011 01:14    PDF Print E-mail

Sebagai hamba Allah SWT yang telah berikrar, sebenarnya apa pun perintah-Nya, kita tidak perlu dan tidak pantas bertanya-tanya mengapa, untuk apa?. Hamba yang baik justru senantiasa ber-husnuzhzhan, berbaik sangka kepada-Nya. Allah SWT memerintahkan atau melarang sesuatu, pastilah untuk kepentingan kita.

Karena Allah SWT Maha Kaya, tidak memiliki kepentingan apa pun. Ia mulia bukan karena dimuliakan; agung bukan karena diagungkan; berwibawa bukan karena ditunduki. Sejak semula Ia sudah Maha Mulia, sudah Maha Agung, sudah Maha Kaya, sudah Maha Berwibawa. Kalau kemudian Ia menjelaskan pentingnya melaksanakan perintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya, semata-mata karena Ia tahu watak kita yang suka mempertanyakan, yang selalu menonjolkan kepentingan sendiri.

Maka, sebelum kita mempertanyakan mengapa kita diperintahkan berpuasa, misalnya, Allah SWT telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

(Q. 2. Al-Baqarah: 183)

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kalian sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”

Jadi, puasa yang diwajibkan sejak dulu kepada kaum sebelum kita, bertujuan utama: agar kita manusia ini bertakwa. Takwa adalah kondisi puncak hamba Allah. Hamba mukmin di dunia ini, dalam proses menuju ketakwaan kepada Allah SWT. Karena semua kebaikan hamba di dunia dan kebahagiaannya di akhirat, kuncinya adalah ketakwaan kepada-Nya. Mulai dari pujian Allah SWT, dukungan dan pertolongan-Nya, penjagaan-Nya, pengampunan-Nya, cinta-Nya, limpahan rejeki-Nya, pematutan amal dan penerimaan-Nya terhadapnya; hingga kebahagiaan abadi di sorga, ketakwaanlah kuncinya. (Baca misalnya, Q.3: 76, 120, 133, 186; Q.5:27; Q. 16: 128; Q. 19: 72; Q. 39: 61; Q. 65: 2-3; Q. 33: 70-71; Q. 49: 13).

Itu garis besarnya. Apabila kebahagiaan yang dicari manusia, itulah kuncinya. Kunci dari Sang Pencipta manusia dan kebahagiaan itu sendiri. Seringkali, manusia merasa mengerti dan tahu jalan menuju kebahagiaan. Mengabaikan tuntunan Tuhannya. Ternyata tersesat. Akhirnya, kebahagiaan yang dicari, kesengsaraan yang didapat. Di zaman modern ini misalnya, banyak orang menganggap kebahagiaan bisa didapat dari materi dan orang pun berlomba-lomba mengejar materi. Seringkali, sampai “kaki dijadikan kepala, kepala dijadikan kaki”. Ujung-ujungnya, karena materi ternyata tidak kunjung memberi kebahagiaan, mereka pun lari kepada yang lebih mudarat lagi: mengonsumsi obat-obatan. Narkoba.

Untunglah, Allah menyediakan satu bulan, bulan suci, dimana kita diberi kesempatan untuk melakukan muhasabah yang lebih intens. Kita diberi anugerah luar biasa yang namanya p u a s a. Di bulan Ramadan di mana kita berpuasa, ritme dan gaya hidup kita berubah. Jadwal makan pun berubah dengan satu kelebihan: kita memenuhinya dengan teratur. Maka, banyak kalangan ahli yang kemudian mengaitkan puasa dengan kesehatan, merujuk sabda Nabi kita, “Shuumuu tashihhuu”, (Berpuasalah kalian, maka kalian akan sehat).

Dengan berpuasa, tidak hanya makan-minum kita menjadi teratur; malah para ahli mengatakan bahwa puasa dapat membersihkan dari tubuh kita, unsur-unsur buruk yang membuat kita sakit.

Jadi, puasa bulan Ramadan, bukan saja dianugerahkan Allah bagi kepentingan ruhaniah, tapi juga jasmaniah kita. Atau dengan kata lain, Allah menganugerahkan kepada kita puasa sebagai sarana menyempurnakan diri. Jasmaniah dan ruhaniah. Kalau ungkapan “Al-‘aqlus saliim fil jismis saliim” menyiratkan pentingnya menjaga kesehatan jasmani agar akal menjadi sehat, maka puasa justru memberi peluang kepada kita untuk sekaligus meraih keduanya.

Dengan puasa, hamba Allah digembleng untuk menjadi manusia yang benar-benar sehat luar dalam yang selalu mengingat Sang Penciptanya. Bukan manusia penyakitan yang gampang lupa kepada Tuhannya. Orang yang lupa Tuhannya, seperti difirmankanNya sendiri dalam kitab sucinya al-Quran, dibuat lupa kepada dirinya sendiri.(Q. 59: 19).

Mari kita sikapi bulan Ramadan dengan segala suasana khusyuknya ini dengan sebaik-baiknya. Berpuasa sesuai aturan dan dengan merenungkan hikmah-hikmahnya. Kita penuhi saat-saatnya dengan meningkatkan amal ibadah yang tidak hanya bersifat ritual mahdhah. Dan dalam hal ini, perlu kita waspadai jebakan si serakah industri, termasuk dan utamanya industri pertelevisian, yang lagi-lagi memanfaatkan momentum bulan suci untuk mengeruk keuntungan materi dan membedaki tujuan komersialnya dengan pupur religi. Selamat Beribadah!

KH. Musthofa Bisri

 
Percakapan Basa Basi Bisa Bikin Depresi
Written by Imam Nawawi    Monday, 08 March 2010 02:31    PDF Print E-mail
Jangan anti dulu dengan obrolan yang serius. Peneliti membuktikan orang yang terlibat dalam pembicaraan mendalam atau serius justru lebih bahagia. Sebaliknya orang-orang yang hanya ngobrol masalah sepele bisa bikin depresi.

Ilmuwan menemukan percakapan yang mendalam dapat meningkatkan kebahagian seseorang karena membuat keterlibatan seseorang lebih akrab. Tapi obrolan yang sepele justru bisa membuat orang menjadi depresi atau tidak bahagia.

Dalam penelitian ini psikolog menyelidiki apakah perasaan bahagia dan tidak bahagia seseorang bisa tergantung dari jenis percakapan yang dilakoninya atau tidak.

Partisipan yang ikut terlibat dalam penelitian ini menggunakan alat perekam untuk memantau percakapannya dengan teman atau koleganya selama empat hari.

Para peneliti kemudian mendengarkan rekaman yang ada serta mengidentifikasinya sebagai percakapan yang sepele atau terlibat dalam diskusi yang mendalam. Selain itu peneliti juga memberikan penilaian terhadap kepribadian dan kesejahteraan dari orang tersebut.

Studi ini memberikan temuan-temuan yang cukup mengejutkan dan hasilnya telah dilaporkan dalam jurnal Psychological Science.

Hasil penelitian didapatkan kebahagiaan yang besar dalam bersosialisasi terkait dengan seberapa banyak waktu yang dihabiskan orang untuk sendiri serta waktu untuk berbicara dengan orang lain.

Partisipan yang paling berbahagia jika dirinya menghabiskan kurang dari 25 persen waktunya untuk sendiri dan 70 persen lebih banyak untuk berbicara.

Tapi peneliti juga terkejut dengan temuan bahwa topik pembicaraan bisa mempengaruhi tingkat kebahagiaan dari orang tersebut. Partisipan yang paling bahagia ditemukan dua kali lebih besar jika terlibat dalam pembicaraan yang bermakna. Sedangkan sepertiga partisipan mengaku tidak bahagia jika terlibat dalam pembicaraan yang sepele atau hanya sekedar basa basi.

"Penemuan ini menunjukkan bahwa kehidupan yang bahagia meliputi sosialisasi yang baik dan terlibat dalam percakapan yang mendalam atau bermakna daripada hidup sendiri (soliter) dan hanya basa basi saja," ujar Matthias Mehl, profesor psikologi dari University of Arizona, seperti dikutip dari Telegraph, Senin (8/3/2010).

Mehl menambahkan suatu percakapan yang mendalam bisa menumbuhkan rasa keakraban dengan orang lain dalam suatu hubungan, sehingga akan lebih bermakna dalam menciptakan interaksi yang baik dengan orang lain.

Para peneliti menyimpulkan bahwa percakapan yang mendalam dan bermakna kemungkinan bisa memiliki potensi untuk membuat orang lain menjadi lebih bahagia dibandingkan hanya sekedar basa basi saja. dtc/www.syababhidayatullah.or.id.
Last Updated ( Monday, 08 March 2010 02:34 )
 
Antara Beda Pendapat vs Beda Pendapatan
Written by Imam Nawawi    Monday, 08 February 2010 12:17    PDF Print E-mail
Seorang artis, masih bisa tersenyum di hadapan kamera yang ditonton oleh jutaan orang ketika dirinya mengumumkan keputusan cerai. “Mungkin, ini adalah jalan yang terbaik,“ ujarnya. Seolah-olah tidak ada jalan lain, kecuali menyudahi hubungan rumah tangganya dengan peceraian. Mudahnya artis kawin-cerai, sampai-sampai ada sebuah artikel di media massa dengan judul menarik. “Artis Cerai? Bosen Ah!”

Si penulis mengatakan, akibat ulah para artis yang menggampangkan perceraian, menjadikan citra lembaga pernikahan tak terlalu sakral lagi.

Banyak orang memutuskan hubungan pernikahan hanya karena masalah-masalah sepele. Bahkan sesuatu yang tak ada hubungannya dengan masalah syariat agama. Misalnya hanya karena masalah komunikasi, masalah kurangnya waktu bertemu, sampai-sampai perbedaan gaji yang timpang antara istri dan suami, dan yang tidak kalah mengejutkan, dari penelitian Departemen Agama tahun 2008, sebagian keluarga memutuskan hubungan ikatan hanya karena perbedaan partai politik.

Kenyataannya, tak semua wanita siap menyendiri tanpa pasangan ketika usianya telah di atas 30 tahun. Sebaliknya, tak semua wanita lebih siap, setelah didapati gajinya jauh lebih besar di atas gaji sang suami. Jika tanpa naungan agama yang baik,  ‘perbedaan pendapatan’ (maisyah) seperti ini bisa melahirkan ‘perbedaan pendapat’ (khilaf) yang berakhir pada konflik rumah tangga. Gara-gara perbedaan gaji, rumah tangga bisa menjadi kemelut.

Tak hanya masalah gaji atau partai, perbedaan pendapat bisa juga bermula dari banyak hal. Ada hubungan keluarga pecah hanya gara-gara perbedaan organisasi dan harakah. Hubungan kekeluargaanya harus pecah sampai turun-temurun, padaha jika dirunut, urusannya tidaklah teralu serius. Mungkin karena gengsi dan sikap ego, bisa menutup ikatan ‘darah’ nya.

***

Kecuali menyangkut masalah prinsip akidah dan hal-hal yang sudah qoth’i,  Islam dikenal sangat menghargai perbedaan. Nabi Muhammad mencontohkan dengan dengan sangat indah kepada kita semua. Betapa indahnya pernikahannya dengah Siti Khadijah. Ia menikah dengan seorang wanita berumur, 40 tahun. Sudah tua, janda pula. Sementara ia (Muhammad) kala itu masih pria muda, 25 tahun. Tak hanya itu, Khadijah adalah seorang pengusaha kaya raya. Meski demikian, tak pernah dalam perjalanan pernikahannya Khadijah menghitung-hitung perbedaan gaji. Siti Khadijah adalah orang pertama yang masuk Islam dari kaum perempuan. Ia seorang istri sekaligus pendorong  dan tulang punggung Nabi dalam berdakwah. Karena itulah ketika meninggal,  Nabi Muhammad kehilangan setengah kekuatan.

Kehidupan Muhammad dan Siti Khadijah menunjukkan kepada ummatnya bahwa perbedaan gaji dan usia tak menjadi alasan hubungan rumah tangga, apalagi menjadikan perbedaan pendapat.

Dalam tradisi ulama Islam, perbedaan pendapat bukanlah hal yang baru. Tidak terhitung jumlahnya kitab-kitab yang ditulis ulama Islam yang disusun khusus untuk merangkum masalah perbedaan pandangan. Kitab Al Mughni karya Imam Ibnu Qudamah,  adalah sebuah kitab yang menyangkut berbagai pandangan dan mazhab dalam bidang hukum Islam.  Bahkan tak hanya  berlaku masalah hukum saja. Juga menyangkut tafsir, ulumul qur'an, syarh hadits, ulumul hadits, tauhid, usul fiqh, qawa'id fiqhiyah, maqashidus syariah, dan lain-lain.

Dalam khasanah Islam, para ulama salaf dikenal dengan sikap kedewasaan, toleransi, dan objektivitasnya yang tinggi dalam menyikapi perbedaan. Ucapan Imam Imam Syafi’i yang sangat masyhur sebagi bentuk penghormatan perbedaan pada pihak lain adalah, “Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar."

Adab Berbeda Pendapat dalam Islam

Khilaf (perbedaan pendapat) di mana pun selalu ada. Di mana pun dan sampai kapan pun. Jika tidak disikapi dengan tepat dan bijaksana, tidak menutup kemungkinan akan melahirkan perpecahan, permusuhan, dan bahkan kehancuran. Karena itu, Islam memberi arahan bagaimana cara menghadapi perbedaan pendapat di antara kita semua. Di bawah ini adalah adab-adab yang harusnya dilakukan kaum Muslim;

1. Ikhlas dan Lepaskan Diri dari Nafsu


Kewajiban setiap orang yang berkecimpung dalam ilmu dan dakwah adalah melepaskan diri dari nafsu tatkala mengupas masalah-masalah agama dan syariah. Mereka hendaknya  tidak terdorong kecintaan mencari ketenaran serta menonjolkan dan memenangkan diri sendiri. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, orang yang mencari ilmu karena hendak mendebat para ulama, melecehkan orang-orang yang bodoh, atau untuk mengalihkan perhatian manusia pada dirinya, maka dia tidak akan mencium bau surga (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah).

2. Kembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah

Ketika terjadi perbedaan pendapat, hendaklah dikembalikan pada Kitabullah dan Sunnah Rasul. Keduanya dijadikan sebagai ukuran hukum dari setiap pendapat dan pemikiran. “…Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Hadits).” (An-Nisaa’: 59).

3. Tidak Menjelekkan


Masing-masing tetap mempunyai hak yang tidak bisa dihilangkan dan dilanggar, hanya karena tidak sependapat dalam suatu masalah. Di antara haknya adalah nama baik (kehormatan) yang tidak boleh dinodai, meski perdebatan atau perbedaan pendapat semakin meruncing. Wilayah pribadi seperti itu tidak boleh dimasukkan dalam materi perbedaan.

4. Cara yang Baik


”…Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”
(An-Nahl: 125).

Berdialog harus dengan cara yang baik (menarik) sehingga bisa mendapatkan simpati dan lawan bicara mau mendengarkan kebenaran yang dibawa. Cara seperti ini terhindar dari sikap yang keras dan kaku, jauh dari perkataan yang menyakitkan dan mengundang antipati.

Penyeru kebenaran adalah orang yang mementingkan dakwah, bukan kepentingan pribadi. Jika bersikap keras dan kaku, berarti telah mementingkan nafsu pribadi sehingga berakibat orang menjauh dari dakwahnya.

5. Mendalami Nash Syariah dan Pendapat Ulama


Agar dapat keluar dari khilaf dengan membawa hukum yang benar, maka semua nash syariah yang berkaitan dengan masalah itu harus dihimpun. Dengan demikian, persoalan yang umum bisa dijelaskan dengan yang khusus, yang global bisa diperjelas dengan yang terinci, serta yang kiasan bisa dijelaskan dengan yang gamblang.

6. Bedakan antara Masalah yang Sudah Di-Ijma’ dan yang Diperselisihkan


Masalah-masalah yang sudah di-ijma' (disepakati) sudah tidak perlu lagi diperdebatkan dan dipertanyakan. Komitmen kepadanya merupakan keharusan agama, seperti halnya terhadap Al-Qur'an dan Hadits.

7. Pertimbangkan Tujuan dan Dampaknya

Orang yang mencari kebenaran kemudian salah, berbeda dengan orang yang memang sengaja mencari kebatilan lalu dia mendapatkannya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap memberikan satu pahala bagi hakim yang memutuskan perkara hukum, namun salah, karena niat dan keinginannya untuk mendapatkan kebenaran. Dan Allah tidak membebankan kewajiban kepada manusia kecuali berdasarkan kemampuannya. (Al-Baqarah: 286). Wallahu Ta'ala a'lam. hidcom/www.syababhidayatullah.or.id.

 

 
Nasehat Untuk Diri Sendiri
Written by Imam Nawawi    Wednesday, 20 January 2010 02:23    PDF Print E-mail
Mari kita tampakkan jati diri kita seungguhnya
 
Oleh : Muntadziruzzaman*
 
Bismillaahirrahmaanirraahiim....
Ayoo...
Wahai Saudara dan para sahabatku....
mari kita tampakkan jati diri kita seungguhnya (khusus yang merasa sebagai pemuda Islam pelanjut perjuangan), dengan berpikir dan merenung serta muhasabah dan bersungguh-sungguh menjadi anak yang di Ridhai Allah dan di ridhai Orang Tua...
 
Kita berusaha jangan sampai perbuatan kita sehari-hari yang nampak dan yang tidak, sama seperti perbuatan anak-anak muda yang tidak pernah belajar agama...
jangan kita membuat Orang Tua kita menangis dan menangis terus karna perbuatan kita di masa muda ini, tidak sesuai dengan keinginan mereka di saat kecil kita dulu...
 
Perbuatan apa yang bisa membalas kebaikan Mereka (Orang Tua) selain menjadi anak Sholeh dan menjadi anak Lembaga ini yang bisa memberi jasa kepada perjuangan Islam di lembaga kelahiran kita ini...???
kita hidup di dunia ini, kelak yang menerima pahala dan balasan dari dosa, adalah diri kita sendiri..??
Tidak ada yang bisa menjamin bahwa kelak, apabila ajal kita sudah dekat, kita akan sempat bertaubat dan di terima oleh Allah, kecuali kalo bukan di waktu sekarang ini...??
 
Bahagiakanlah Orang Tua kita dengan menjadi anak yang taat dan patuh serta menjadi anak yang menjaga sholat 5 waktu... karna pembeda antara orang kafir dan muslim adalah sholat 5 waktu itu...
Hati seseorang di dunia ini yang paling Utama kita bahagiakan adalah hati orang tua kita...!!!
bukan pacar kita...!! bukan teman bermaksiat kita...!! bukan juga teman kuliah kita..!!
 
Tapi Orang Tua Kita..!!! tapi kenapa selama masa muda kita, yang menjadi pertimbangan apabila ada suatu perbuatan yang ingin kita lakukan adalah pendapat teman-teman yang satu hati dan pemikiran dengan kita...???
 
Bukan pendapat dan saran Orang Tua yang telah menjadi tempat bagi Allah untuk menjaga kita di masa kecil dan rumah untuk membesarkan kita di muka bumi ini...????
mereka menunggu di rumah, bagi kita yang merantau, entah itu untuk menuntut Ilmu atau sekedar untuk bebas berkreasi tanpa ada orang yang menegur apabila kita salah.....
buktikanlahhh... bahwa mereka tidak salah membiarkan kita merantau...
buktikanlahhh... bahwa kita bisa di andalkan, di banding saudara-saudara kita yang lain...
buktikanlahhh... bahwa kita bisa melanjutkan cita-cita mereka yang belum tuntasss....
buktikanlahhh... bahwa kalian terlahir dari orang tua yang sholeh dan terlahir di lingkungan yang Islamii..
kapan kita bisa mendo`akan Orang Tua kita dengan khusyu` dan syahdu, sedangkan waktu di mana ijabah do`a kita gunakan maksiat kepada Allah dan durhaka kepada Orang Tua..???

INGATKAH KALIAN SEDIH DAN CEMASNYA MEREKA DI WAKTU KITA SAKIT DAHULU..???
INGATKAH KALIAN SENANG DAN BAHAGIANYA MEREKA DI WAKTU KITA TAAT DAN SHOLEH DAHULU..???
SEKARANG BALASAN APA YANG KITA BERIKAN BUAT MEREKA DI SAAT KITA TELAH MENJADI PEMUDA SEPERTI INI...???
SIAPAKAH YANG INGIN KALIAN BAHAGIAKAN DENGAN PERBUATAN KITA SEKARANG YANG BEBAS INI...???
SIAPAKAH YANG PANTAS KITA DENGARKAN DAN PATUHI KATA-KATANYA, KECUALI MEREKAA..???

kita masih hidup, dan rumah kita masih berada di lingkungan yang Islami, tidak ada kata terlambat untuk berubah... jika kita berniat dan mulai berubah dari sekarang....
klo kita sudah tidak takut dengan kematian yang datang dengan tiba-tiba... maka itu salah satu tanda bahwa kita belum di berikan hidayah oleh Allah untuk berubah dan berhijrah.... dan itu salah satu tanda bahwa hati kita sudah banyak nodanya...
Bismillah... sungguh perbuatan akan berberkah apabila dimulai dengan bismillah.....

*Penulis adalah anggota Syabab Hidayatullah tinggal di Madinah

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 4

Berita Global

Berhenti Merokok Bisa Bikin Sabar

Hidayatullah.com—Anda termasuk tipe orang pemarah atau temperamental? Nah, mulailailah berh [ ... ]


Berita Lainnya

Berita Islam

Ulama-ulama Nusantara yang Sudah Mendunia

Mereka umumnya menghabiskan hidupnya dengan mengajar di Mekah, sebagian lagi pulang ke Indonesi [ ... ]


Berita Lainnya

Teknologi

eBook Gusur Buku Cetak di AS

Hidayatullah.com--Data baru menunjukkan bahwa buku elektronik atau eBook untuk pertama k [ ... ]


Berita Lainnya

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.