Risensi buku
"Durhaka" Berbuah Celaka
Written by Farid Ma'ruf    Monday, 21 March 2011 02:40    PDF Print E-mail

“Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah, “ demikian pepatah masyhur yang menunjukkan bagaimana peran ibu pada anak-anaknya.

Hanya saja, teramat sedikit anak yang mengerti dan menghargai ibu mereka. Padahal, dalam al-Quran banyak disebutkan, ridha ibu merupakan ridha Allah dan murka ibu bisa membuat murkan Allah. Setidaknya tercermin dalam kisah ini.

Peristiwa ini terjadi pada naas yang pernah dialami oleh Ali, pemuda asal Madura, pada pertengahan tahun 2005 silam.

Menurut pengakuan laki-laki berperawakan murah senyum ini, peristiwa yang hampir merenggut nyawanya tersebut, bermuara pada keinginannya melanjutkan studi, seusai menamatkan proses pembelajaran Sekolah Menengah Aliyah (SMA), di salah satu pondok pesantren di kota garam tersebut.

Setelah berbagi pikiran dengan salah satu temannya, diambillah keputusan untuk melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi Islam yang terletak di Situbondo, Jawa Timur.

Tak disangka, ketika mengutarakan keinginannya tersebut kepada kedua orangtuanya, ternyata keinginan mereka bertolakbelaka dengan apa yang dikehendaki Ali. Alasannya, selain jauh, dia juga tidak memiliki teman sekampung yang hendak melakukan studi di sana.

”Ndak usah kuliah di sana. Kamu kan gak ada teman dari sini (kampung). Nanti kamu berangkat dan pulang sendirian. Kalau terjadi apa-apa di jalan, bagaimana?” papar Ali, menirukan keberatan ibunya.

Sekalipun telah mendapat sinyal ketidakridhaan orangtuanya, terutama ibu,  Ali nampaknya tetap bersikeras untuk melanjutkan misinya. Peringatan-peringatan orangtuanya akan kemudharatan kalau dia bersikukuh kuliah di sana, sama sekali tak digubris. “Anjing menggonggong, kafilah terus berlalu.”

Akhirnya, melihat kengototan si-buah hati yang gak bisa ditawar-tawar, mereka pun dengan berat hati menyetujui keberangkatan Ali.

”Kalau kamu masih bersikeras, ya, terserah kamu,” ujar mereka dengan nada berat, penuh keterpaksaan.

Kecelakaan

Tidak lama setelah mendapat ’lampu hijau’ dari orangtua, bersama si-teman, Ali akhirnya berangkat ke daerah perantauan. Perjalanan pertama ini, bertujuan untuk observasi, memastikan akan kebenaran berita, bahwa di pondok yang mereka tuju itu ada perguruan tingginya, atau tidak.

Memang, perburuan mereka akan perguruan tinggi, bisa dibilang sedikit agak liar. Menurut pengakuan Ali, mereka sama sekali buta akan perguruan tinggi tersebut. Anehnya, mereka sudah tergiur untuk kuliah di sana.

Tanda-tana kurang baik mulai cium. Ketika mereka telah menapakkan telapak kaki di lokasi yang mereka tuju. Setelah menggali informasi dari pengurus pesantren, terungkap, bahwa pondok tersebut tidak memiliki perguruan tinggi, sebagaimana informasi yang mereka dapatkan.

”Saya sangat kecewa. Jauh-jauh dari madura ke Situbondo, ternyata hasilnya nihil,” terang Ali.

Karena perburuannya tidak sukses, Ali pun langsung balik kanan, pulang kampung. Namun, perjalanan kali ini, dia harus tempuh sendiri, karena sahabatnya masih ada keperluan yang lain. Dan hal ini lah yang sangat dikhawatirkan oleh kedua orangtuanyai.

Ceritanya, ketika bus yang dikendarai Ali tiba di salah satu terminal di Madura, ia bersiap-siap turun. Tak ada  angin, tak ada  hujan, ketika kaki kirinya menginjakkan tanah, tiba-tiba dia langsung lunglai, pingsan. Naasnya, kepala bagian belakang, terbentur tortoar, yang mengakibatkan goresan luka tepat pada salah satu sarafnya, yang kemudian menyebabkan Ali berlumuran darah.

Ali langsung tidak berdaya. Sekujur tubuhnya kaku, tak ubahnya sebuah mayat.
”Menurut informasi yang saya peroleh, saat itu tangan saya dalam posisi terlentang. Tidak bisa diubah posisinya, karena kaku. Akhirnya, untuk mengganti pakaianku yan berlumuran darah, pihak medis memotong-motong bajuku,” jelasnya.

Celakanya lagi, saat itu, pria yang memiliki kemampuan bahasa Arab ini, tidak membawa satu pun kartu identitas, sehingga membuat orang-orang di sekitarnya kebingungan untuk menghubungi pihak keluarga.

Sebuah keajaiaban, di tengah kondisi keritisnya, Ali sempat mengucapkan nama pondok almamaternya, sehingga memudahkan para relawan melacak keberadaan keluarganya.
”Sudah pasti itu pertolongan Allah. Dalam kondisi demikian, aku bisa memberitahu nama almamaterku. Dan terus-terang, saya sendiri tidak menyadari akan hal itu,” akunya dengan nada terbata-bata.

Pasca kecelakaan itu, selama empat hari Ali tidak sadarkan diri. Dalam kurun waktu itu, ± delapan infus dan dua oksigen dia habiskan.

Buta, Bisu dan Tuli

Setelah mengalami masa kritis, pada hari kelima, Ali mulai siuman. Sayangnya, kondisi ini, justru membuat Ali semakin terpukul. Bagaimana tidak, ketika awal siuman, dia mendapatkan dirinya tidak mampu melihat, mendengar, dan berbicara. ”Saya sangat terpukul,” tegasnya.

Untunglah, Ali bukan tipe orang yang mudah menyerah dengan keadaan. Seiring dengan berjalannya waktu, kondisi Ali sedikit demi sedikit membaik. Dia sudah mampu memdengar dan melihat. Tapi, untuk berbicara, dia mengalami kesulitan. Banyak lawan bicaranya, termasuk ibu bapaknya sendiri, tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.
”Keluar suara, tapi mereka pada tidak mengerti dengan apa yang saya ucapkan,” terangnya.

Selama kurang lebih satu bulan, Ali mengalami kondisi yang demikian. Alhamdulillah, setelah itu kondisinya kembali membaik, normal seperti sediakala, meskipun, kadang kala dia masih merasakan rasa nyeri di kepalanya.

Sedari itu, Ali tidak pernah lagi mengacuhkan perkataan orangtuanya. Peristiwa tersebut, benar-benar dijadikan pelajaran penting bagi kehidupannya.

”Ini adalah teguran Allah yang sangat berharga bagiku. Intinya, jangan pernah kita mendurhakai orangtua. Ingat, ridha Allah itu terletak pada ridha orangtua, dan murka Allah, itu terletak pada murka orangtua,” ujarnya mengingatkan, sembari menyitir salah satu hadits Nabi Muhammad Shalallahu ’alahi Wasallam. Semoga kisah ini bisa dijadikan pelajaran bagi semuanya, ujar Ali mengakhiri ceritanya.*

Cerita ini dikisahkah Ali, pemuda asal guluk-guluk, Madura, kepada hidayatullah.com

Rep: Robinsah
Red: Cholis Akbar

 
Memilih Bidang Pekerjaan di Akhir Zaman
Written by Imam Nawawi    Wednesday, 12 May 2010 09:30    PDF Print E-mail

Pekerjaan bertani atau bercocok tanam akan selalu baik sampai akhir zaman

Oleh: Muhaimin Iqbal*  

ADA salah satu Ustaz saya, Ustaz Ihsan Tandjung yang sangat mendalami subyek akhir zaman. Saking banyaknya referensi beliau dalam masalah ini,  sampai menulis satu situs khusus di internet.

Mendalami masalah akhir zaman, tidak harus membuat kita pesimistis dalam menghadapi kehidupan ini. Justru sebaliknya, bila kita sadar bahwa ‘boleh jadi kiamat  sudah dekat’, maka kita akan berusaha mencari bekal sebanyaknya untuk hidup sesudah itu, yaitu kehidupan yang abadi di akhirat kelak.

Kesadaran akan akhir zaman juga akan membuat kita buru-buru bertaubat bila dalam perjalanan hidup kita ada hal-hal yang kita langgar – mumpung masih ada waktu! Buru-buru kita ke kembali ke jalan Allah menyambut seruan-Nya: “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS 51 :50).

Nah bagaimana dalam konteks bidang pekerjaan, bila dalam pekerjaan yang kita tekuni tersebut kita masih terlibat dalam hal yang sangat terlarang, seperti riba, riswah (suap), mengambil hak orang lain, berbuat kerusakan di bumi, menzalimi rakyat, dan lain sebagainya?

Banyak potensi pekerjaan yang bisa kita pilih, yang aman dari hal-hal yang terlarang tersebut. Bahkan banyak pula jenis pekerjaan yang bisa kita lakukan tersebut yang memiliki dasar kuat di Al-Qur’an ataupun di hadis. Kaidahnya adalah, apa yang disebutkan di Al-Qur’an ataupun hadis yang sahih adalah benar ketika diturunkan. Benar saat ini, dan akan tetap benar sampai akhir zaman.

Mengapa demikian? Karena agama ini adalah agama akhir zaman, maka segala tuntunannya pasti valid sampai akhir zaman, termasuk tuntunannya dalam hal pekerjaan ini.

Pekerjaan bertani atau bercocok tanam misalnya, akan selalu baik sampai akhir zaman karena kita bahkan diperintahkan untuk tetap menanam benih yang ada di tangan kita, walaupun seandainya proses terjadinya kiamat sudah mulai.

Contoh pekerjaan lain yang juga insy Allah valid sampai akhir zaman adalah menggembala (memelihara) kambing. Untuk yang satu ini, Imam Nawawi yang sangat mashur dengan kitab yang menjadi rujukan para juru dakwah hingga kini, membahas secara khusus dalam kitabnya Riyadhush Shalihin.

Dalam bab Beruzlah  beliau menyampaikan bahwa beruzlah atau menyendiri ketika moral manusia sudah rusak, takut agama ini terfitnah, dan takut terjerumus dalam keharaman dan syubhat, adalah hal yang disunahkan. Nah ketika kita menyendiri dan takut kepada hal yang haram, lantas apa pekerjaan kita untuk menghidupi diri dan keluarga kita? Memelihara kambing, itulah salah satu jawabannya.

Untuk jawaban ini tidak tanggung-tanggung Imam Nawawi memberikan tiga hadis sahih sebagai rujukannya. Berikut adalah hadis-hadis tersebut:

Dari Abu Hurairah R.A., dari Nabi SAW, dia bersabda: "Setiap Nabi yang diutus oleh Allah adalah menggembala kambing". Sahabat-sahabat beliau bertanya: “Begitu juga engkau ?”; Rasulullah bersabda: “Ya, aku menggembalanya dengan upah beberapa qirath penduduk Mekah.” (H.R. Bukhari)

Dari Abu Said berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Hampir saja harta muslim yang terbaik adalah kambing yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau peperangan sesama muslim).” (H.R. Bukhari)

Dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Termasuk penghidupan manusia yang terbaik, adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang di atasnya (dia menaikinya dengan jalan yang cepat). Setiap mendengar panggilan perang dia terbang di atasnya dengan bersemangat untuk mencari kematian dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau mati biasa.  Atau seorang laki-laki yang menggembala kambing di puncak gunung dari atas gunung ini atau lembah dari beberapa lembah. Dia mendirikan salat, memberikan zakat, dan menyembah kepada Tuhannya hingga kematian datang kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia, dan hanya berbuat baik kepada mereka.” (H.R. Muslim).

Jadi menggembala (memelihara) kambing bukan hanya commercially feasible seperti yang sudah saya tulis sebelumnya; tetapi juga memiliki dasar yang sahih. Maka tidak malu saya berulang kali mengajak para  pembaca untuk belajar menekuni profesi yang sering dianggap kuno oleh sebagian orang di zaman teknologi ini. Bagi yang berminat, silakan datang ke lokasi kandang kami di Jonggol dan mulai belajar mempersiapkan diri dengan profesi akhir Jaman. Insya Allah.

Ilustrasi:mages.com/Corbis

Penulis adalah Direktur GeraiDinar.com

 
Sebulan Hafal Al-Quran?
Written by Imam Nawawi    Saturday, 06 March 2010 08:51    PDF Print E-mail

Judul Buku: Hafal Al-Quran dalam Sebulan

Penulis: Ir. Amjad Qosim

Penerbit: Qiblat Press, April 2009

Tebal: 153

 

       Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjamin kemurnian Al-Qur‘ân telah memudahkan umat ini untuk menghafal dan mempelajari kitab-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan para hamba-Nya agar membaca ayat-ayat-Nya, merenungi artinya, dan mengamalkan serta berpegang teguh dengan petunjukNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan hati para hamba yang shalih sebagai wadah untuk memelihara firman-Nya. Dada mereka seperti lembaran-lembaran yang menjaga ayat-ayat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : Sebenarnya, Al-Qur‘ân itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zhalim … (Qs al-Ankabût/29:49).

           Sebenarnya banyak sekali metode yang ditawarkan bagaimana menghafal Al-Quran dengan waktu yang relative singkat. Walaupun demikian, sesingkat-singkatnya untuk menghafal Al-Quran, waktu yang yang dibutuhkan tetap hitungan tahun. Apalagi yang memiliki daya ingat lemah, dikarenakan bawaan ataupun banyak melakukan maksiat.

            Dahulu, para sahabat Radhiallahu’anhum yang mulia dan Salafush-Shalih, mereka berlomba-lomba menghafal Al-Qur‘ân, generasi demi generasi. Bersungguh-sungguh mendidik anak-anak mereka dalam naungan Al-Qur‘ân, baik belajar maupun menghafal disertai dengan pemantapan ilmu tajwid, dan juga mentadabburi yang tersirat dalam Al-Qur‘ân, (yaitu) berupa janji dan ancaman. Bagaimana dengan kita?

            Dalam buku ini, Ir. Amjad Qosim menawarkan metode yang perlu dicoba. Tidak tanggung-tanggung waktu yang dibutuhkan hanya sebulan (bahkan kurang). Masak ya?. Bukan saja santri yang dapat menerapkan buku ini, karena didalam buku ini juga menceritakan pengalaman tiga ibu rumah tangga yang hafal Al-Quran, padahal kita tahu sendiri bagaimana tugas seorang ibu rumah tangga, dari merawat anak, emndidik anak, mengurus rumah tanga, dan sebagai isteri. Subhanallah, ya!!!

            Menghafal Al-Quran   memang memerlukan energi ekstra, disisi lain harus meluangkan waktu, kesungguhan serta tidak bermalas-malas adalah factor pendukung. Tidak mungkin dengan santai-santai, tanpa usaha, kita berharap mendapatkan buahnya. Maka apa yang kita inginkan semakin berat dan sulit untuk diwujudkan. Di dalam buku ini kita akan diajak mempelajari bagaimana cara meningkatkan kesungguhan, menguatkan tekad untuk mencapai tujuan. Selain itu, ketika sudah memiliki kesungguhan yang tinggi hal yang perlu dihindari adalah sifat-sifat tercela, seperti sombong, congkak, ujub, dll.

            Factor tempat yang kondusif juga mempengaruhi semangat. Penulis mengibaratkan apabila permata jatuh di tempat yang berbajis, maka dibutuhkan begitu banyak air untuk membersihkannya jika kita menyiramkan air di atasnya, sedang permata itu masih saja ditempat yang bernajis tersebut. Akan tetapi, jika kita mengeluarkannya dari tempat yang bernajis itu, maka kita pun akan mudah membersiskannya hanya dengan sedikit air.

            Melalui buku ini, alangkah baiknya jika dicoba metode yang ditawarkan penulis. Dan masih banyak lagi isi yang menarik dalam buku ini. penasaran? Baca dong! Banyak hadits Rasulullah SAW yang mendorong untuk menghapal Al- Quran, atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu Muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah SWT. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu`: “Orang yang tidak mempunyai hapalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh “. (HR. At Tirmizi)

           

By: Dedik S. (Mahasiswa STAI Luqman-Al Hakim Surabaya)

Last Updated ( Saturday, 06 March 2010 09:05 )
 
Stop! Pembodohan Siswa
Written by Imam Nawawi    Friday, 05 March 2010 03:57    PDF Print E-mail
Orang tua mana yang tidak menginginkan buah hatinya mendapatkan ilmu ketika mengenyam pendidikan di bangku sekolah? Dari bangku SD hingga perguruan tinggi. Karena dengan pendidikan, orang tua berharap sang buah hati bisa ikut andil mengangkat derajat bangsa kita di mata dunia. Tapi, apa jadinya ketika sang buah hati tidak menjadi pintar malah sebaliknya “bodoh”, karena dukungan terselubung dari beberapa pihak yang tidak diketahui sang anak (siswa) –pembodohan yang dilakukan orang tua, guru, dan  komite sekolah —yang kurang tanggung jawab.

Maka jangan heran! Kalau  sering mendengar warta dari berbagai media masalah pendidikan. Hal tersebut –bisa jadi—sudah menjadi berita tahunan bahkan enam bulanan (semester). Praktek pembodohan yang berkaitan dengan pendidikan seperti pemalsuan ijazah; jual-beli gelar; jual beli nilai; kurikulum yang berubah-ubah; praktek suap orang tua dan guru; problema seputar guru; dan sederet problema lainnya memang merupakan hal yang dianggap sepele ketika berlangsung. Namun, membawa dampak besar, bukan saja siswa, orang tua, guru yang dibodohkan. Tapi, bangsa kita Indonesia terpaksa mendapat sorotan dari negara-negara lain, bahwa Indonesia negara bodoh.

Buku karya M. Joko Susilo –Dosen FKIP Universitas Ahmad Dahlan– ini mengajak pembaca untuk merenungi problema tersebut, dan memikirkan bagaimana mengatasi problema-problema pendidikan itu. Apakah hanya menyalahkan orang tua? Guru? komite sekolah? Dan Pemerintah?. Sehingga –minimal– kita jarang mendengar berita kasus siswa berusaha bunuh diri gara-gara uang Rp 2500 (h. 31); bocah SD gantung diri gara-gara tidak mampu bayar SPP (h. 35); bunuh diri karena gagal UAN (h. 38), dan kasus-kasus yang tercatat rapi lainnya. Hal ini tidak akan teratasi tanpa adanya koherensi antara orang tua, guru, komite sekolah, dan pemerintah.

Tragis memang, tapi itu semua adalah realita yang tak lepas dari bidikan media masa. Sehingga, walaupun kita berusaha menutup kenyataan itu, tapi itu semua merupakan bahan media yang menarik untuk dipublikasikan.

Maaf!!! Rakyat miskin dilarang sekolah. Sebenarnya stigma tersebut juga kurang sesuai, meskipun memang kenyatannya begitu. Pasalnya pemerintah –tidak kurang– berupaya menangani hal tersebut, seperti memberikan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Khusus Murid (BKM) dan lain sebagainya demi suksesnya program WAJAR (wajib belajar) 9 tahun. Namun semua itu belum mampu mebuahkan hasil yang maksimal, ada saja nasib mereka yang kurang beruntung. “maaf anda kurang beruntung, coba sekali lagi”, mungkinkah kata itu yang layak diberikan pada mereka?

Intinya, kebobrokan pendidikan kita ini –memang– tersistematis, tidak berlebihan jika penulis mengatakan, jika pembodohan tersebut tetap berlangsung maka tidak ada kata lain “kebobrokan dan kehancuran” di dunia pendidikan kita. (h. 80).

Jika boleh bertanya, mengapa ada diskriminasi antara sekolah Swasta dengan sekolah Negeri? (h. 131). Mengapa profesi guru kurang diminati di Indonesia? Padahal di Amerika profesi guru mendapat urutan pertama? Mengapa di era 50-an Indonesia mampu mengexport guru ke Malaysia? Sedangkan pada tahun 2003 menempati urutan ke-112 dari 175 negara (menurut survey Human Development Index), sedangkan Malaysia yang dulu mengimport guru dari Indonesia menempati urutan ke 58. kenapa bukan Indonesia? Urutan ke-28 diduduki Singapura, yang menurut data yang ada Singapura meniru konsep yang diidekan Ki Hajar Dewantara. Jawabnya –sebagian—ada di buku ini. Wah… mereka hebat ya!!!

Buku tersebut memang memiliki unsur motivasi yang kuat. Boleh saja di awal-awal bab kita akan banyak menemui kalimat kalimat berupa kritikan. Tapi sebagai praktisi pendidikan –tidak lupa—penulis memberikan saran, gagasan dan ide-ide yang bagus jika diimplementasikan dalam sistem pendidikan kita. Buku ini bagus untuk di baca untuk: siswa, orang tua siswa, guru, wakil rakyat, dan pihak pemerintahan (jika sempat), demi terwujudnya pendidikan yang bermutu. Karena dalam mewujudkan dan mencetak SDM yang gerkualitas, perlu adanya kerjasama antara pihak-pihak yang bersangkutan. Buku yang berjudul “pembodohan siswa tersistematis”, tersebut menggambarkan sang penulis –sebagian – figur yang peduli akan dunia pendidikan kita.

(ditulis oleh : Dedik S. Anggota LDK STAIL Surabaya)

 

Judul Buku: Pembodohan Siswa Tersistematis

Penulis: M. Joko Susilo

Penerbit: Pinus, Februari 2007

Tebal: 239

 

Last Updated ( Friday, 05 March 2010 04:04 )
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 2

Berita Global

Berhenti Merokok Bisa Bikin Sabar

Hidayatullah.com—Anda termasuk tipe orang pemarah atau temperamental? Nah, mulailailah berh [ ... ]


Berita Lainnya

Berita Islam

Ulama-ulama Nusantara yang Sudah Mendunia

Mereka umumnya menghabiskan hidupnya dengan mengajar di Mekah, sebagian lagi pulang ke Indonesi [ ... ]


Berita Lainnya

Teknologi

eBook Gusur Buku Cetak di AS

Hidayatullah.com--Data baru menunjukkan bahwa buku elektronik atau eBook untuk pertama k [ ... ]


Berita Lainnya

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.