Islam
Ulama-ulama Nusantara yang Sudah Mendunia
Written by Imam Nawawi    Thursday, 29 July 2010 03:35    PDF Print E-mail

Mereka umumnya menghabiskan hidupnya dengan mengajar di Mekah, sebagian lagi pulang ke Indonesia

Sejarah mencatat beberapa ulama Indonesia pada masa lalu pernah berkiprah hingga namanya dikenal dunia. Mereka pada umumnya berguru ke Mekah dan Madinah. Sebagian menghabiskan hidupnya dengan mengajar di sana, sebagian lagi pulang ke Indonesia. Berikut di antara mereka:

Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Namanya tak hanya dikenal oleh masyarkaat Nusantara, tapi juga kaum muslimin di Filipina, Turki, Arab Saudi, Mesir, dan India. Lahir di Banjar tanggal 15 Safar 1122 (17 Mei 1710). Selama hampir 35 tahun berguru pada ulama-ulama terkenal di Mekah dan Madinah seperti Syeikh Ataillah bin Ahmad Al-Misriy, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdiy, Syeikh Ahmad bin Abd Mun'im Syeikh, dan Muhammad bin Abd Karim Al-Qadiri.

Selepas berguru di Mekah dan Madinah, Al-Banjari kembali ke tanah air. Ia membuka pusat-pusat studi Islam untuk membantu masyarakat menimba ilmu pengetahuan.

Al-Banjari berhasil menulis berpuluh-puluh karya. Salah satu yang termasyhur adalah kitab Sabilal Muhtadin, yang kerap menjadi referensi para penulis buku fikih.

Pada 6 Syawal 1227 (3 Oktober 1812), Al-Banjari wafat. Untuk mengenang karya dan jasanya, masyarakat Banjarmasin mendirikan Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli Al-Minangkabawi

Ia seangkatan dengan Hasyim Asyhari, pendiri Nahdlatul Ulama. Lahir di Candan, Sumatera Barat, pada tahun 1871.

Sulaiman menuntut ilmu agama di Mekah dan antara lain berguru pada ulama Minang yang tinggal di Tanah Suci, Syeikh Ahmad Khatib Abdul Lathif Al-Minangkabawi. Sekembali ke tanah air, ia menyebarkan ajaran Islam dengan sistem lesehan (duduk bersila). Baru pada tahun 1928, Al-Minangkabawi menggunakan bangku.

Pada tahun 1928 juga, Al-Minangkabawi bersama Syeikh Abbas Ladang Lawas dan Syeikh Muhammad Jamil Jaho menggagas berdirinya organisasi yang sempat menjadi partai politik, yaitu Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti).

Syeikh Sayyid Utsman Betawi

Nama lengkapnya Sayyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Umar bin Yahya Al-Alawi, namun lebih dikenal dengan sebutan Habib Utsman Mufti Betawi. Lahir di Pekojan, Jakarta, 17 Rabiul Awwal 1238 (2 Desember 1822).

Habib Utsman adalah sahabat ulama besar Sayyid Yusuf An-Nabhani, mufti di Beirut. Selama di Mekah, Habib Utsman menimba ilmu pada Syeikh Ahmad Ad-Dimyathi, Sayyid Muhammad bin Husein Al-Habsyi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syeikh Rahmatullah.

Semasa hidupnya, Mufti Betawi berhasil menulis karya sebanyak 109 buah. Dalam memutuskan suatu perkara ia dikenal sangat tegas. Tak heran kalau ulama-ulama asli Jakarta yang ada sekarang sangat mengagumi sosok Mufti Betawi dan menjadikannya guru teladan.

Syeikh Muhammad Khalil Al-Maduri

Lahir pada 11 Jamadil Akhir 1235 (27 Januari 1820) di Bangkalan, Madura. Al-Maduri berasal dari keluarga ulama. Ia sempat berguru kepada Kiai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur.

Al-Maduri semasa mudanya berhasil menghafal Al-Qur'an (hafizh). Juga mampu menguasai qiraah tujuh (tujuh cara membaca Al-Qur'an).

Tahun 1859 Al-Maduri menuju ke Mekah. Ia bersahabat dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani. Sekembalinya ke tanah air, Al-Maduri mendirikan pondok pesantren di daerah Cengkebuan, 1 kilometer dari tanah kelahirannya.

Pada masa penjajahan Belanda, ia sudah sepuh dan tak lagi mampu terlibat langsung dalam kontak fisik. Namun ia sangat aktif menumbuhkan sikap perlawanan kepada para pemuda di pondok pesantrennya. Akibatnya, Al-Maduri ditahan Belanda karena dituduh melindungi para pemberontak.

Muhammad Khalil Al-Maduri wafat pada usia 106 tahun (29 Ramadan 1341 atau 14 Mei 1923). Semasa hidup telah membina kader-kader ulama untuk generasi setelahnya, seperti KH Hasyim Asy’ari (pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang) dan KH Bisri Mustofa (pendiri Pondok Pesantren Rembang).

Syeikh Nawawi Al-Bantani


Al-Bantani kerap disebut sebagai “Imam Nawawi Kedua”. Gelar ini diberikan oleh Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain Al-Fathani.

Lahir pada penghujung abad ke-18 di Banten. Ia memiliki nama lengkap Muhammad Nawawi bin Umar ibnu Arabi bin Ali Al-Jawi Al-Bantani.

Selama di Mekah, Nawawi Al-Bantani belajar pada beberapa ulama terkenal seperti Syeikh Ahmad An-Nahrawi, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah Al-Maliki, Syeikh Ahmad Ad-Dumyati, Syeikh Muhammad Khathib Duma Al-Hanbali, Syeikh Zainuddin Aceh, dan Syeikh Ahmad Khathib Sambas.

Setiap kali mengajar di Masjidil Haram, ia selalu dikelilingi sekitar 200-an orang. Pernah diundang ke Universitas Al-Azhar, Mesir, untuk memberi ceramah atau fatwa-fatwa pada beberapa perkara khusus.

Syeikh Muhammad Mukhtar Al-Bughri

Lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 14 Sya'ban 1278 (14 Februari 1862). Nama lengkapnya Muhammad Mukhtar bin Atharid Al-Bughri Al-Batawi Al-Jawi. Pendidikan agamanya didapat langsung dari orang tuanya. Semasa muda, ia telah mampu menghafal Al-Qur'an.

Tahun 1299 hijrah ke Betawi (Jakarta) untuk menimba ilmu kepada Sayyid Utsman. Tidak puas juga, ia kemudian menuju ke Mekah.

Selama di Mekah, Mukhtar Al-Bughri belajar kepada ulama termasyhur, Syeikh Ahmad Al-Fathani. Ia juga diberi kesempatan untuk mengajar di Masjidil-Haram selama 28 tahun.

Setiap kesempatan mengajar, ia selalu dikelilingi sekitar 400-an muridnya. Semasa hidupnya telah menulis berpuluh-puluh karya. Mukhtar Al-Bughri wafat di Mekah pada 17 Shafar 1349 (13 Juli 1930).

Syeikh Abdul Hamid Asahan

Nama lengkapnya Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud. Lahir di  Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara, tahun 1298 H (1880).

Sejak kecil ia belajar kepada saudara iparnya yang bernama Haji Zainuddin. Setelah itu belajar kepada ulama termasyhur di Asahan bernama Syeikh Muhammad Isa, mufti Kerajaan Asahan.

Syeikh Muhammad Isa menganjurkan Abdul Hamid untuk menimba ilmu ke Mekah. Pasalnya, Abdul Hamid memiliki talenta untuk menjadi ulama.

Sampai di Mekah, Abdul Hamid Asahan langsung diterima belajar di halaqah Syeikh Ahmad Al-Fathani. Sayang, dua tahun kemudian Syeikh Ahmad Al-Fathani meninggal dunia (1325 H/1908). Walau berinteraksi hanya sekitar dua tahun, rasa kasih sayang Syeikh Ahmad Al-Fathani begitu kuat.

Abdul Hamid Asahan kemudian berguru pada Syeikh Ahmad Khathib bin Abdul Lathif Minangkabawi. Proses belajar ini sempat terganggu karena meletusnya Perang Dunia I (1914 - 1918). Ia terpaksa pulang ke Tanjung Balai Asahan.

Abdul Hamid kemudian mendirikan Madrasah 'Ulumil 'Arabiyah. Seiring berjalannya waktu, madrasah ini berkembang pesat dan menjadi termasyhur di Sumatera Utara.

Abdul Hamid Asahan melengkapi hidupnya dengan menulis berpuluh-puluh buku. Ia wafat pada 10 Rabiul Akhir 1370 (18 Februari 1951). hidcom/www.syababhidayatullah.or.id

 
Sekolah Islam Semakin Diminati Masyarakat
Written by Imam Nawawi    Wednesday, 07 July 2010 00:50    PDF Print E-mail

Dari tahun ke tahun minat orangtua untuk menyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan Islam semakin meningkat. Hal ini dikatakan Badruzzaman Busyairi, Sekretaris Umum Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al Azhar Pusat.

”Ada kecenderungan bahwa masyarakat mulai melirik dan merasakan manfaat dari keberadaan sekolah-sekolah Islam,” kata Badruzzaman kepada hidayatullah.com.

Ini bisa dilihat dari semakin banyaknya berdiri sekolah Islam di berbagai daerah. Menurutnya, tidak mungkin sekolah-sekolah itu berdiri jika tak ada permintaan masyarakat.

”Para orangtua sedang mencari sekolah yang mampu menghasilkan siswa berakhlak baik.”

Sekarang ini, kualitas sekolah Islam sudah mulai disejajarkan dengan sekolah umum. Bahkan, jelas Badruzzaman, di Gorontalo SD Muhammadiyah dan MTS Negeri menempati peringkat teratas, mengalahkan sekolah umum.

Namun, Badruzzaman tak menyangkal bahwa sekolah Islam yang berkualitas itu identik dengan sekolah mahal.

”Ya memang begitu. Untuk menghasilkan sekolah berkualitas memerlukan biaya mahal,” jelasnya.

Salah satu faktor pendukungnya adalah guru yang berkualitas. Jika guru tak dipenuhi kebutuhan pokoknya, maka guru tersebut akan mencari penghasilan tambahan. Dengan begitu guru tak akan tekun mengajar.

Selain itu, dibutuhkan sarana seperti laboratorium, perangkat IT, ruang yang nyaman, dan lainnya.

”Untuk sekolah swasta dari mana dana untuk keperluan tersebut jika tidak dari para wali murid?” jelasnya.

Ia tidak setuju jika ini disamakan dengan komersialisasi pendidikan. Dinamakan komersialisasi, kata Badruzzaman, jika ada sekolah yang memungut biaya yang tidak masuk akal selama proses belajar. Atau memperjualbelikan bangku untuk para siswa baru.

Di sekolah-sekolah Al Azhar misalnya, memang biaya pendidikannya cukup mahal. ”Namun, dalam perjalanan setahun belajar kami tak memungut biaya-biaya lagi,” tandasnya.

Sejak awal sekolah-sekolah Al Azhar memang diperuntukan untuk kalangan menengah ke atas. Hal ini bukan berarti Al Azhar alergi dengan siswa dhuafa.  Al Azhar tetap mempunyai program untuk siswa dhuafa, yakni dengan mendirikan sekolah binaan untuk mereka.

”Kami hanya berupaya menghindari rasa minder. Karena yang sudah-sudah banyak siswa dhuafa yang minder bila digabung dengan siswa yang berada. Ini yang membuat suasana belajar tidak kondusif. Untuk itu kami tengah merintis sekolah binaan untuk mereka,” demikian Badruzzaman. hidcom/www.syababhidayatullah.or.id

 
Tujuh Perawi Hadis Terbanyak
Written by Imam Nawawi    Monday, 22 March 2010 10:44    PDF Print E-mail

Ada tujuh sahabat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam (SAW) yang meriwayatkan lebih dari 1.000 hadis semasa hidupnya

Mereka tercatat sebagai sahabat-sahabat Rasul SAW yang terbanyak meriwayatkan hadis. Ketujuh sahabat tersebut adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu (Ra), Abdullah bin Abbas Ra, Abu Hurairah Ra, Anas bin Malik Ra, Jabir bin Abdullah Ra, Said Al Khudri Ra, dan Sitti Aisyah Ra.

Berikut adalah uraian singkat mengenai ketujuh sahabat Rasulullah Saw tersebut:

Abdullah bin Umar Ra

Ia adalah putra Umar bin Khathab Ra dan saudara kandung Hafshah Ra, isteri Rasul Saw. Tercatat, Abdullah Ra telah meriwayatkan sebanyak 2.630 hadis (jumlah kedua terbanyak setelah Abu Hurairah Ra).

Abdullah sangat setia mengikuti Rasul Saw. Jika Rasul Saw menunaikan shalat, ia bermakmum di belakangnya.

Jika Rasul Saw berdoa dengan berdiri maka Abdullah Ra ikut berdiri dan mengamininya. Bahkan ketika Rasul Saw turun dari unta betina setelah mengelilingi kota Mekah dan menunaikan sholat dua rakaat, Abdullah Ra pun ikut mengitari Mekah dan sholat dua rakaat sesudahnya, sebagaimana yang ia saksikan.

Tak heran jika Ummul Mukminin, Aisyah Ra, berkata, ''Tidak seorang pun sahabat yang setara Ibnu Umar (Abdullah Ra) dalam mengikuti jejak Rasulullah (Saw).''

Abdullah Ra juga sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadis. Ia tak mau meriwayatkan suatu hadis, kecuali yang benar-benar ia ingat huruf demi hurufnya.

Selain itu, Ibnu Umar Ra selalu bangun untuk menunaikan shalat Tahajjut dan memohon ampun di waktu sahur seraya menangis. Setiap kali ia mendengar ayat-ayat tandzir (peringatan) dilantunkan, ia selalu mengeluarkan air mata sebagaimana ayahnya.

Abdullah bin Abbas


Pada usia tujuh tahun Abdullah Ra telah menempel pada Rasulullah Saw bagaikan alis dengan mata. Ia juga biasa dibonceng oleh Rasul Saw ketika berpergian, laksana orang dengan bayangannya. Abdullah Ra bercerita, ''Ketika Rasulullah (Saw) hendak shalat, beliau memberikan isyarat agar aku berdiam di belakangnya. Dan, setelah selesai shalat, beliau menatapku seraya bertanya, 'Mengapa engkau tidak berdiri di sampingku Abdullah (Ra)?' Aku menjawab, 'Karena engkau sangat mulia dalam pandanganku. Aku sangat keberatan berdiri di sampingmu.' Kemudian Rasulullah (Saw) mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, 'Ya Allah, karuniakanlah ilmu yang hak dan hikmah kepadanya,'.''

Doa tersebut ternyata dikabulkan. Putra Abbas bin Abdul Muthalib , pamanda Rasulullah Saw, ini menjadi sosok yang berilmu luas dan ahli fikih yang mendetil.

Sepanjang hidupnya ia telah meriwayatkan sebanyak 1.660 hadis.

Abu Hurairah Ra


Nama aslinya Abdus Syamsi. Setelah masuk Islam saat Perang Khaibar, ia mengganti namanya menjadi Abdur Rahman As Shahri. Kemudian, oleh Rasulullah Saw, ia diberi gelar Hurairah, yang berarti ''Bapak kucing kecil.'' Nama ini diberikan setelah ia membawa seekor kucing kecil ke hadapan Rasul Saw.

Kecintaannya kepada Rasulullah Saw luar biasa. Sejak memeluk Islam ia belum pernah berpisah dengan Rasul Saw kecuali saat tidur. Selama empat tahun ia berteman dengan Rasulullah Saw hingga wafatnya, ia selalu mengikuti ke mana Baginda pergi.

Abu Hurairah Ra bukan tipe penulis. Tak seperti Abdullah bin Amru Ra (meriwayatkan 700 hadis) yang selalu menuliskan apa yang ia dengar dari Rasulullah Saw.

Namun, Abu Hurairah Ra memiliki ingatan yang sangat kuat. Ia pernah berkata, ''Tidak seorang pun dari sahabat-sahabat Rasulullah (Saw) yang menandingi aku dalam hal menghapal hadis kecuali Abdullah bin Amru (Ra). Sesungguhnya (perbedaannya adalah) ia menulis dan aku tidak.''

Tak heran bila Abu Hurairah Ra tercatat sebagai sahabat Rasul Saw yang terbanyak meriwayatkan hadis.

Rasul Saw sendiri pernah berkata kepada Abu Hurairah Ra, ''Barang siapa yang merentangkan selendangnya hingga hadisku selesai, lalu ia melipatnya kembali, maka ia tak akan lupa pada apa saja yang ia dengar dariku.''

Setelah mendengar ini Abu Hurairah Ra langsung merentangkan selendangnya dan Rasulullah Saw mengutarakan hadis yang amat banyak, kemudian memeluk Abu Hurairah Ra. ''Demi Allah,'' kata Abu Hurairah, ''Setelah itu aku tidak pernah lupa pada apa yang aku dengar dari beliau.''

Anas bin Malik Ra

Anas bin Malik Ra berada pada urutan ketiga terbanyak meriwayatkan hadis. Ia telah meriwayatkan sebanyak 2.286 hadis, setingkat di bawah Abdullah bin Umar Ra. Ayahnya bernama Malik bin Nadhir Ra yang nasabnya bersambung dengan Adi bin Najjar Ra.

Saat Anas Ra berusia 10 tahun, ibunya menyerahkan Anas kepada Rasulullah Saw untuk menjadi pelayan beliau.

Rasulullah Saw memanggil Anas dengan sebutan Dzal Udunaini, yang artinya ''yang punya dua telinga.''

Anas Ra tak mengikuti perang Badar, karena usianya saat itu masih sangat muda. Namun di perang-perang lain, Anas Ra selalu tampil berani. Tatkala Abu Bakar Ra bermusyawarah untuk mempergunakan tenaga Anas Ra,Umar Ra sangat memuji usul tersebut dan berkata, ''Anas (Ra) adalah seorang pemuda yang pandai menulis dan terkenal pula ketakwaannya, karena ia lama bersahabat dengan Rasulullah (Saw).''

Ibnu Sirin berkata, ''Anas (Ra) adalah orang yang paling baik dalam melaksanakan shalat, di rumah atau di perjalanan.'' Sedang Abu Hurairah Ra berkata, ''Saya belum pernah berjumpa dengan orang yang seperti Ibnu Sulaim (Anas Ra) dalam melaksanakan shalat.''

Jabir bin Abdullah Ra

Setiap orang yang berjumpa dengannya, banyak menimba ilmu darinya. Di Masjid Nabi di Madinah, ia memiliki ‘halaqah’, tempat orang-orang menuntut ilmu dan bertakwa.

Jabir bin Abdullah Ra pernah mengikuti peristiwa bersejarah bersama ayahnya dalam baiat Aqabah. Ia juga berjihad menyertai Rasulullah Saw dalam banyak peperangan, kecuali Perang Badar dan Perang Uhud. Di kedua perang ini, ayahnya, Abdullah bin Amru, mencegahnya untuk ikut.

Setelah sang ayah wafat pada Perang Uhud, Jabir Ra tak pernah lagi absen menyertai Rasulullah Saw di medan jihad. Dan, selama berada di sisi Rasul Saw, Jabir telah mampu meriwayatkan 1.540 hadis.

Said Al Khudri Ra

Nama aslinya Saad bin Malik bin Sanan. Namun ia lebih dikenal dengan julukan Abu Said al Hudri. Ia adalah salah seorang sahabat yang dibaiat oleh Rasulullah untuk berpegang pada tali Allah dengan meninggalkan hal-hal yang tercela. Bersamanya dibaiat juga Abu Dzar Al-Ghifari, Sahal bin Saad, Ubbadah bin Shamit, dan Muhammad bin Maslamah. Dan, Abu Said tampil dalam perang Bani Musthalik, perang Khandak, dan perang sesudahnya sebanyak 12 kali.

Abu Said telah meriwayatkan 1.170 hadis. Kepada orang yang bertanya untuk menulis hadis darinya, ia berkata, ''Jangan ditulis hadis, tapi hapalkanlah sebagaimana kami menghapalkannya.”

Sitti Aisyah Ra

Ia lahir di Mekah empat tahun sesudah kenabian Muhammad Saw. Ia adalah putri Abu Bakar Ra dan Ummi Ruman, dan isteri Rasul Saw, setelah wafatnya Khadijah Ra. Ia memeluk Islam selagi masih kecil, bersama delapan orang yang lain.

Siti Aisyah adalah gadis yang cerdas dan pandai berbahasa. Ia juga menguasai ilmu kesehatan dan ilmu nasab. Seorang sahabat bernama Zuhri pernah berkata, ''Seandainya ilmu Siti Aisyah dibandingkan dengan semua ilmu isteri-isteri Nabi (Saw), dan semua wanita Arab, niscaya ilmu Siti Aisyah-lah yang lebih utama.''

Sahabat yang lain, Anwar, berkata, ''Saya belum pernah melihat orang yang lebih pandai dari Aisyah tentang ilmu kesehatan, syair, dan ilmu fikih.''

Rasulullah Saw begitu sayang kepada Aisyah Ra. Pada suatu kesempatan Rasul Saw berkata kepada Aisyah Ra, ''Rasa cintaku kepadamu ya Aisyah, seperti Al Urwatul Wutsqa (pegangan yang kuat).''

Di kesempatan lain, seorang sahabat bernama Amru bin Ash bertanya kepada Rasulullah Saw tentang siapa yang paling beliau cintai. Beliau menjawab, ''Yang pertama adalah Aisyah, kemudian Abu Bakar, Umar bin Khathab, dan sahabat-sahabat yang lain.''
Semasa hidupnya, Siti Aisyah telah meriwayatkan sejumlah 2.210 hadis. Keunggulan Siti Aisyah dalam meriwayatkan hadis, kadang-kadang ia bisa meng-istimbatkan (mengkonklusikan) beberapa masalah. Ia kerap berijtihad sendiri lalu diikuti oleh para sahabat yang lain. hidcom/www.syababhidayatullah.or.id

 
HTI Ajak Umat Bersatu Perangi Liberalisasi Islam
Written by Imam Nawawi    Tuesday, 02 February 2010 06:50    PDF Print E-mail
Ormas Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengajak umat Islam bersatu melawan liberalisasi agama yang jika didiamkan akan merusak ajaran Islam, demikian juru bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa.

Umat Islam harus bangkit dan bergerak melawan usaha yang mencabik-cabik kemuliaan Islam, diantaranya melalui pencabutan UU No.1 PNPS Tahun 1965, yang disebutnya tidak rasional.

HTI berunjuk rasa Selasa siang ini di gedung MK, mendesak MK tidak mengabulkan gugatan penghapusan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan atau Penodaan Agama.

Menurut Ismail, bila UU 1/1965 tersebut dicabut, maka akan terjadi banyak sekali tindakan yang dikategorikan sebagai penghinaan terhadap berbagai agama yang diakui di Indonesia.

Selain itu, pencabutan UU tersebut juga berpotensi akan menjadi pintu masuk kepada berbagai aliran sesat yang selama ini telah bermunculan di berbagai daerah. ant/www.syababhidayatullah.or.id.
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 8

Berita Global

Berhenti Merokok Bisa Bikin Sabar

Hidayatullah.com—Anda termasuk tipe orang pemarah atau temperamental? Nah, mulailailah berh [ ... ]


Berita Lainnya

Berita Islam

Ulama-ulama Nusantara yang Sudah Mendunia

Mereka umumnya menghabiskan hidupnya dengan mengajar di Mekah, sebagian lagi pulang ke Indonesi [ ... ]


Berita Lainnya

Teknologi

eBook Gusur Buku Cetak di AS

Hidayatullah.com--Data baru menunjukkan bahwa buku elektronik atau eBook untuk pertama k [ ... ]


Berita Lainnya

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.