| Anak Penarik Becak Lulus Dokter di UGM |
|
Written by Farid Ma'ruf
Tuesday, 13 September 2011 10:05 |
 |
 |
 |
|
|
Hidayatullah.com--Suyatno (63) memarkir becaknya di belakang Graha Sabha Pramana dan menggemboknya dengan sebuah rantai. Tidak lama kemudian, ia mengambil sebuah bungkusan plastik berwarna hijau yang tersimpan di belakang kursi sandaran becaknya. Bergegas ia mencari sudut gedung dan membuka isi tas plastik itu. Sebuah baju batik berwarna coklat terlipat rapi. “Sebelum pakai batik, saya lap dulu keringat saya, banyak sekali,” kata Suyatno sebelum naik ke lantai dua tempat berlangsung sebuah acara.
Suyatno datang ke kampus UGM dalam rangka menghadiri undangan pertemuan orangtua mahasiswa baru, Kamis (8/09/2011). Ia datang bukan sebagai orangtua mahasiswa baru, tetapi sebagai undangan khusus. Orangtua ini dinilai berhasil menguliahkan anaknya hingga lulus menjadi dokter di Fakultas Kedokteran (FK) UGM.
Pria yang sehari-hari menetap di Terban, Kota Yogyakarta, ini memiliki empat orang anak. Namun, hanya anak bungsunya, Agung Bhaktiyar, yang dapat mengenyam bangku pendidikan tinggi, bahkan telah dilantik menjadi dokter pada pertengahan 2011 lalu.
Suyatno berkisah bahwa sang anak tidak pernah memberitahu jika mendaftar tes masuk UGM pada tahun 2005. Setelah dinyatakan lulus, barulah si bungsu memberi tahu. Saat itu, Suyatno sempat kaget dan terdiam, tidak menyangka jika anaknya dapat diterima di FK UGM. Ia hanya mengiyakan akan mendukung keinginan anaknya tersebut meski sebenarnya Suyatno masih ragu apakah mampu menguliahkan anaknya sampai selesai. Namun, keraguan itu tidak ia utarakan. 
“Bapak akan berusaha sampai kamu bisa selesai kuliah, Nak,” ujarnya kala itu membesarkan hati sang anak.
Agung pun mafhum dengan kondisi keluarganya. Ia pun tidak pernah memaksa orangtuanya untuk memenuhi keinginannya. Sejak kecil, Suyatno sudah membiasakan anak-anaknya untuk hidup sederhana, bahkan untuk membeli baju seragam dan sepatu sekolah, Suyatno selalu membelikan yang serba bekas. Suyatno memang tidak dapat berbuat banyak. Dari menarik becak, Suyatno hanya dapat membawa pulang uang sebesar Rp20.000,00 hingga Rp30.000,00 per hari. Istrinya, Saniyem, membantunya menopang ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai pengumpul barang rongsokan di pasar Terban.
Kendati demikian, Suyatno dan Saniyem tetap optimis dan berdoa agar suatu saat anaknya dapat bernasib lebih baik.
“Dulu saya berangan-angan paling tidak bisa melebihi saya,” kata pria tamatan pendidikan sekolah rakyat ini. Dalam perjalanannya, Suyatno tidak merisaukan biaya kuliah anaknya selama enam tahun di FK UGM karena Agung mendapat bantuan beasiswa dari UGM.
“Tapi kalau untuk fotokopi dan uang saku, dia tetap minta ke saya. Kalau tidak ada, tetap apa adanya,” ujarnya.
Pengalaman Suyatno dalam menguliahkan anaknya hingga lulus menjadi dokter ini disampaikan di hadapan 3.717 orangtua mahasiswa baru yang hadir di Grha Sabha Pramana. Kisahnya membuat beberapa orangtua menjadi terharu. Namun, tidak sedikit pula yang merasa tergugah. Yang pasti, testimoni Suyatno membuktikan penarik becak pun ternyata dapat menguliahkan anaknya di UGM, jadi dokter lagi!*/Gusti, ugm
Foto: Suyatno (humas ugm)
Sumber : Humas Ugm Rep: Panji Islam Red: Cholis Akbar |
|
| FUIA Sesali Pemukulan Khatib |
|
Written by Farid Ma'ruf
Tuesday, 13 September 2011 10:00 |
 |
 |
 |
|
|
Hidayatullah.com--Forum Ukhuwah Islamiah Aceh (FUIA) menyesali kejadian pemukulan terhadap khatib di Keumala Kabupaten Pidie Jumat 9 September 2011.
“Tindakan tersebut merupakan pelecehan dan pelemahan profesi khatib, yang semestinya dilindungi untuk kemerdekaan menyampaikan amar ma’ruf nahi mungkar,” kata Ketua FUIA Dr Muhammad AR MEd.
Pihaknya mengharapkan, kepolisian agar menuntaskan pengusutan kasus ini, karena ini kasus kedua kekerasan terhadap penceramah/khatib di Kabupaten Pidie, setelah pemukulan terhadap Ghazali Abbas Adan saat memberi ceramah maulid Rasul di Gampong Pango Bambong, 13 Mei lalu.
Khatib dinilai harus tetap memiliki kemerdekaan mimbar dalam menyampaikan risalah Islamiah, katanya. Untuk itu, pihak manupun harus menghargai setiap dakwah yang disampikan oleh khatib, da’i dan muballigh.
“Kasus pemukuan khatib ini dapat dianggap pencemaran agama yang pantas dihukum secara adil,” tegas dosen pasca sarjana IAIN Ar-Raniry ini.
Seperti diberikan Serambi FM, Tgk Saiful Mila, yang menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Raya Ji Jiem, Kecamatan Keumala, Pidie, Jumat (09/09/2011) dipukuli sejumlah jamaah.
Saat itu dia sedang memberikan khutbah. Diduga pelaku merasa tersinggung dengan isi khutbah Tgk Saiful Mila yang saat itu menyinggung masalah silaturrahim dan hukum qishash..
"Baru sekitar beberapa menit saya bicara, mendadak bangun beberapa jamaah. Saya disuruh turun, namun tak menggubrisnya" ungkap Tgk. Saiful Mila. Namun tanpa merasa takut, korban Tgk. Saiful pun, kemudian kembali melanjutkan khutbahnya.
"Yang ada saya ceramah, soal dosa-dosa besar, termasuk mereka yang dendam sesama muslim lebih dari tiga hari, itu dosanya tak diampuni oleh Allah swt. Terus saya kasih contoh seperti masalah politik, jangan karena beda partai, membuat kita putus tali silaturrahmi," tambahnya.
Kalimat Tgk. Saiful Mila itu ternyata membuat sejumlah jamaah bangun dari duduknya dan langsung memukuli korban. "Saya sudah buat laporan perkaranya," ungkap Tgk Saiful.
Akibat pemukulan ini, korban mengeluh sakit dibagian pelipis kanan serta luka memar dibagian wajah. Sementara proses shalat jum'at langsung dilanjutkan oleh khatib pengganti.*/Sayed M Husen, Aceh
Red: Cholis Akbar |
|
| Syafii Maarif: Indonesia Dipimpin Orang Bingung |
|
Written by Farid Ma'ruf
Thursday, 26 May 2011 02:41 |
 |
 |
 |
|
| Hidayatullah.com--Menjadi tak salah memang jika masyarakat menganggap era Presiden Soeharto lebih baik dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seperti hasil survei Indo Barometer belum lama ini. Di mata mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafii Maarif, hal itu sebagai bentuk kerinduan rakyat yang merasakan kehidupan sehari-hari saat ini yang semakin sulit.
Menurut Syafii , kerinduan terhadap kondisi saat Orde Baru dirasakan dari sisi pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat.
Ia menilai pemimpin saat ini terlalu sibuk untuk mengedepankan citranya, dan tidak subtantif untuk melakukan perubahan. Soeharto diakuinya memang merupakan seorang presiden yang otoriter dan terkesan kejam.
"Sedangkan, SBY dalam kesehariannya halus, mengedepankan citra, kalau berbicara sangat memesona. Tetapi tidak berbuat," ujar Syafii, di Jakarta, Rabu (25/5).
Selain itu, ia menambahkan SBY lebih banyak mengurusi partai dan konflik internalnya. Bahkan, ia juga melihat perjalanan orde reformasi, dari kiprah Megawati hanya sebentar, Gus Dur pun begitu, hingga SBY.
Meski masanya lebih panjang, lebih dari lima tahun, SBY justru dilihat tampak bingung dengan dirinya dan partainya.
"Jadi kita ini dipimpin orang bingung," ujar Syafii.
Dialog yang berlangsung di kantor PP Muhammadiyah tersebut juga dihadiri salah seorang anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Agus Abubakar.
Dalam kesempatan tanya jawab dengan Syafii, Agus mengatakan Presiden sulit untuk berbuat banyak karena terkerangkeng sistem. Bahkan, ia mengatakan, saat menyusun kabinet Indonesia Bersatu II, banyak tuntutan terhadap Presiden.
"Saya menemani Presiden hingga larut malam. Di situ bahkan ada parpol koalisi yang mengancam untuk keluar jika tidak memasukkan nama-nama menteri yang diajukan," ujar Agus.
Ia pun mengatakan Presiden sebenarnya enggan untuk koalisi dengan banyak partai, namun sistem yang ada memaksanya untuk berkoalisi.
Mendengar pernyataan dan pertanyaan Agus, Syafii menjawab tak seharusnya seorang pemimpin terkerangkeng sistem. Syafii mengatakan seorang pemimpin harus berani mendobrak sistem dan menciptakan sistem baru.
"Tapi sebenarnya, seorang pemimpin yang bertindak, tidak perlu dipenjara oleh sistem itu. Dia (SBY) seakan-akan dikerangkeng sistem. Dia tidak bisa melakukan itu (mendobrak)," ujar Syafii.
Syafii juga mengkritik pernyataan SBY yang menyindir tokoh lintas Agama bahwa jangan hanya mencerca. Hal itu menurutnya, menunjukkan SBY sulit bertindak dan hanya mengeluh.
"Kritik kami sampaikan, juga sudah pikirkan jalan keluar. Ada enam yang kami sampaikan, tetapi kok tidak bertindak," jelas Syafii.*
Sumber : ant/mi Rep: CR2 Red: Cholis Akbar |
|
|
|